Milebisnis
Trending

“JOGJA FISH” : Gurih Bisnis Kripik Lele ala Jogja, Cobain Yuk!

Dipajang di 200 Toko, Omset Tembus Rp 20 Juta

Pengolahan simpel, jaga mutu produk. Milesia.id/ANNY WIDI ASTUTI

Dalam balutan tepung berwarna kuning kecoklatan, kombinasi gurih dan renyah sudah terasa pada gigitan pertama. Kunyah perlahan dan..wow! Tekstur ikan berdaging lembut dengan bumbu meresap segera saja memilin lidah. Lezat betul!

Siapa sangka, di balik gelinjang tubuhnya yang licin dan berlendir, lele bisa diolah dalam beragam produk kuliner lezat bergizi tinggi. Keripik lele itu salah satunya.

Adalah Suharni, SP, tangan kreatif  ibu rumah tangga satu ini mampu menyulap lele menjadi aneka produk lezat dengan rasa yang menggugah. Diantaranya kripik lele, nugget lele, hingga ungkep lele.

Selain semakin lezat, nilai ekonomis lele jelas terkerek naik. “Kami beli lele segar rata-rata Rp 17 ribu per kilogram. Setelah kami olah jadi kripik harganya jadi Rp 85 ribu,” papar Suharni kepada Milesia.id, yang menyambangi kediamannya di Dusun Bedilan, Margokaton, Seyegan, Sleman, Rabu (2/5).

Kenapa memilih lele? “Selain berprotein dan berkalsium tinggi, teknik budidaya relatif tidak rumit. Olahannya cocok sebagai camilan alternatif maupun lauk makan,” ujar perempuan yang akrab disapa Anik itu.

“Kami juga memang ingin meningkatkan nilai ekonomis lele, serta melibatkan banyak orang untuk berkembang bersama,” imbuh alumni Universitas Wangsa Manggala (sekarang Universitas Mercu Buana), Yogyakarta ini.

Mengibarkan bendera “Jogja Fish”, Suharni terus meningkatkan mutu produknya. Terkait bahan baku, Suharni sangat terbantu dengan pengalaman suaminya sebagai pembudidaya lele. Dusun Bedilan, memang dikenal sebagai sentra lele di wilayah Sleman, kawasan di Utara Yogyakarta yang dikenal dengan petani dan peternak handal.

Suharni, SP. Milesia.id/ANNY WIDI ASTUT

Mulai produksi pada 2011, Anik mengawali bisnisnya dengan mengolah dan menjual 5 kilogram kripik lele. Ulet dan gigih, kini setiap hari Anik mampu berproduksi 40 kilogram kripik lele. Dibantu lima tenaga produksi, omset “Jogja Fish” melejit hingga Rp 20 juta per bulan.

Pasarnya terus melebar menembus luar Jogja. Diantaranya Magelang dan Solo. Tercatat Lebih dari 200 toko snack dan oleh-oleh yang memajang produknya.

Proses Produksi Simpel

Kolam lele milik sendiri, jaga pasokan bahan baku. Milesia.id/ANNY WIDI ASTUTI

Kepada Milesia.id, Anik tak ragu membagi resep dan proses produksi lelenya. Pembuatan kripik lele terbilang simple. Setelah dilumuri dengan bumbu-bumbu sederhana macam bawang putih dan garam, lele dibalut tepung lanjut digoreng. Sekilas, semua orang mampu melakukannya.

Bahan baku kripik lele bukan lagi kendala. Didukung kolam lele seluas 400 meter persegi yang dimilikinya, tak kurang dari 1 ton lele segar yang dipanen dua bulan sekali, meluncur mulus ke dapur Anik untuk diolah menjadi beragam produk. Tiga tenaga lapangan, yang adalah warga sekitar, intens merawat dan menjaga kolam lele untuk memastikan budidaya dan pasokan bahan baku tak terkendala.

Bagi Anik, diversifikasi produk olahan dalam bisnis kuliner adalah keniscayaan. Belakangan, Anik mulai mengembangkan ungkep ikan patin. Selain itu, di kolam belakang rumah mulai dirintis ikan sisik dengan sistem kincir angin.

Didukung sang suami, Bambang Hartono, ST, Anik terus berusaha mengembangkan produknya. Selalu menggunakan lele pilihan, mengontrol mutu bahan, dan mengelola dapur sehat dan teknologi packaging modern.

“Dalam proses produksi, kami selalu menggunakan bumbu-bumbu alami dan tanpa bahan pengawet. Minyak goreng juga selalu baru. Alhasil produk kami masa expired nya panjang, sampai satu tahun masih bagus,” tutup Anik. Kriuukk..!  (Milesia.id/Penulis: Anny Widi Astuti/ Editor: Prio Penangsang).

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close