DINAMIKAMileseducationMileshistory
Trending

Menjumput Pemikiran Ki Hadjar Dewantoro

“Pengetahuan manusia merupakan hasil interaksi dari faktor bawaan (nature) dan faktor pengasuhan (nurture). Baik ‘dasar’ (faktor bawaan) maupun ‘ajar’ (pendidikan) berperan dalam pembentukan watak seseorang.” (Ki Hajar Dewantara, 1940)

MILESIA.ID – Setiap tanggal 2 Mei ingatan selalu melayang pada sosok Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, pria berwajah teduh yang lebih dikenal dengan sebutan Ki Hajar Dewantara, beberapa orang menuliskan namanya dengan ejaan bahasa Jawa: ‘Ki Hadjar Dewantoro’.

Lelaki pembelajar ini lahir di Pakualaman, 2 Mei 1889 dan meninggal di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun.

Ki Hadjar adalah tokoh peletak dasar pendidikan di Indonesia, beliau mendirikan Taman Siswa di Yogyakarta pada tanggal 3 Juli 1922 ditengah segala keterbatasan. Untuk mengenang jasa beliau, tanggal kelahirannya diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Setiap tanggal 2 Mei kita tak pernah absen mengenang namanya, walau terkadang sekedar simbolik. Realitanya, kita semakin asing dengan pemikiran-pemikiran beliau.

Ketokohannya belakangan malah diakui UNESCO, nama Ki Hajar dimasukkan ke dalam 10 tokoh besar dunia yang berpengaruh, penilaian itu terkait keberhasilan Ki Hajar mendirikan lembaga pendidikan di masa kolonialisme.

Tut Wuri Handayani

Dalam tulisannya berjudul ‘Tentang dasar dan ajar’ di Pusara Nopember 1940-Jilid 9 no. 9/11, Ki Hajar Dewantara mengungkapkan bahwa pendidikan semestinya diselenggarakan dengan tujuan membantu siswa menjadi ‘manusia yang merdeka’ dan mandiri, serta mampu memberi konstribusi kepada masyarakatnya.

IST – Ki Hajar Dewantara mendirikan Sekolah Taman Siswa di Yogyakarta pada tanggal 3 Juli 1922.

Ki Hajar mengartikan ‘mendidik’ sebagai berdaya-upaya dengan sengaja untuk memajukan hidup, tumbuhnya budi pekerti (rasa, fikiran, roh) dan badan anak dengan jalan pengajaran, teladan dan pembiasaan. Menurutnya jangan ada perintah dan paksaan dalam pendidikan.

Sedangkan ‘Pendidik’ adalah orang yang mengajar, memberi teladan dan membiasakan anak didik untuk menjadi manusia mandiri dan berperan dalam memajukan kehidupan masyarakatnya. Jika pun ada ganjaran dan hukuman, maka ganjaran dan hukuman itu harus datang sendiri sebagai hasil atau buahnya segala pekerjaan dan keadaan.

Ki Hadjar memakai semboyan ‘Tut Wuri Handayani’, menempatkan pengajar sebagai orang yang berada di belakang siswa, membimbing dan mendorong siswa untuk belajar, memberi teladan, serta membantu siswa membiasakan dirinya untuk menampilkan perilaku yang bermakna dan berguna bagi masyarakatnya.

Realita Pendidikan Kita

Ki Hajar Dewantara mengedepankan konsep humanistik dalam pendidikan, baginya siswa bukanlah alat atau objek yang bisa dibentuk sesuka hati.

Mereka adalah subjek utama dalam kegiatan penemuan pengetahuan, bebas untuk menyusun dan membangun pengetahuan melalui berbagai pengalaman yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan.

Mereka harus menjalani sendiri berbagai pengalaman yang pada akhirnya memberikan percikan pemikiran (insight) tentang pengetahuan-pengetahuan tertentu.

Hal terpenting dalam pembelajaran adalah siswa perlu menguasai bagaimana caranya belajar (Novak & Gowin, 1984). Dengan itu, ia bisa jadi pembelajar mandiri dan menemukan sendiri pengetahuan-pengetahuan yang ia butuhkan dalam kehidupan.

Pada realitanya, pendidikan di negeri kita saat ini kerap mengesampingkan konsep humanistik yang diajarkan Ki Hajar Dewantara. Kita cenderung mengedepankan konsep behavioristik.

IST – Pendidikan yang baik adalah menjadikan siswa sebagai subjek sehingga membebaskan mereka untuk memilih cara memahami pengetahuan.

Behavioristik lebih menekankan pada teori dan belajar dengan metode stimulus-respon, seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa ‘stimulus’ dan output yang berupa ‘respon’.

Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pembelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pembelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut.

‘Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur.

Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut, artinya pendidikan lebih mengedepankan nilai dari mata pelajaran. Pola ini cenderung mengesampingkan pembentukan sikap mental dan perilaku.

Tak urung, corak pendidikan dalam sistem persekolahan semacam ini akan menampakkan diri sebagai wajah pendidikan yang kering dari kreativitas dan inovasi.

Sekolah seakan-akan hanya menghasilkan ‘generasi tukang’, bukan inovator atau kreator. Karena untuk berinovasi, kita membutuhkan keberanian sedangkan kebiasaan umum yang terjadi sekarang, dunia pendidikan justru menyebabkan peserta didik menjadi ‘takut salah’.

Padahal dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya kita perlu menumbuh kembangkan unsur cipta, rasa dan karsa.

Dengan demikian tidaklah cukup pendidikan hanya dilakukan dengan hanya menambah ilmu pengetahuan dan teknologi saja tanpa dibarengi pendidikan budi pekerti yang mengenal kepantasan, keserasian dengan lingkungannya. Baik lingkungan alam (natural environment) dan lingkungan sosial (social environment) (Setyodarmodjo, 2002:62).

Asa yang berkembang

Dus, sebenarnya konsep pendidikan yang mengusung nilai humanistik sudah diterapkan, khususnya di lembaga pendidikan usia dini dan sekolah dasar swasta di negeri kita. Di kota-kota besar sekolah semacam ini mudah ditemukan, tapi tentu dengan budget yang tidak murah.

Sementara itu di sekolah-sekolah negeri yang gratis, konsep ini dinilai sulit diterapkan karena tidak terukur. Berbagai riset memang sudah dilakukan, termasuk mengadopsi konsep pendidikan di Finlandia yang menganggap sekolah sebagai ‘taman yang menyenangkan’. Walaupun konsep ini dinilai lebih relevan dengan tuntutan zaman tetapi hasilnya belum significant ketika diterapkan di Indonesia.

Pertanyaan yang muncul kemudian: Mengapa konsep pendidikan lama yang mengusung nilai formal masih saja dimunculkan? Semisal penentuan standar nilai Ujian Nasional (UN) sebagai syarat kelulusan.

IST – Ki Hajar Dewantara berharap sistem pendidikan di Indonesia mampu mengolah cipta, rasa dan karsa.

Jawaban sederhana yang paling realistis  adalah karena adanya ‘kompetisi’ antar lembaga pendidikan. Masing-masing sekolah berlomba menjadi unggulan melalui parameter siswa yang lulus Ujian Nasional.

Nilai formal yang terukur tetap menjadi patokan, bahwa sekolah yang berhasilkan meluluskan siswa dengan nilai tertinggi adalah yang terbaik.

Akan sulit bagi kita untuk menutup mata dengan fakta ini, bahwa ‘gengsi’ adalah symbol kebanggaan dalam bisnis pendidikan.

Jangan heran bila nilai Ujian Nasional (UN), yang katanya tidak lagi menjadi tolak ukur tunggal kelulusan, pada prakteknya tetap menjadi momok bagi siswa.

Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini semoga kita masih bisa berharap, pendidikan di negeri ini bisa kembali kepada esensinya, seperti yang pernah digagas oleh Ki Hadjar Dewantoro berpuluh tahun lalu.

Esensi pendidikan sejatinya mempersiapkan peserta didik agar siap menghadapi masa depan yang belum bisa mereka perhitungkan, serta menumbuhkan kemampuan untuk beradaptasi terhadap segala kemungkinan yang akan mereka temui dimasa datang.

Masa depan memang tidak selalu bisa ditebak, tetapi kita masih bisa memprediksi dan bermimpi, karena tidak akan pernah ada bangsa yang besar tanpa mimpi yang besar pula… (Milesia.Id/Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close