DINAMIKAMilestravelTravel
Trending

Mereka yang Mengais Rezeki di Bulan Ruwah

Penjaja kembang tabur musiman menjamur di sudut-sudut kota Jogja menjelang ramadhan, mereka menyiapkan 'ubo rampe' bagi masyarakat yang hendak 'nyekar' atau berziarah ke makam leluhur.

MILESIA.ID, YOGYAKARTA – SIANG lumayan terik, matahari tepat di atas kepala, wanita setengah baya itu nampak berkeringat. Sambil menyeka peluh di pelipisnya, ia cekatan memasukkan kembang mawar, melati, kantil dan kenanga ke dalam pincuk (wadah dari daun pisang).

Senyumnya merekah saat menyorongkan plastik berisi kembang yang sudah dipincuk itu kepada mbak-mbak di depannya. Si embak merogoh uang sepuluh ribuan, tersenyum sambil mengucap: ‘maturnuwun’ (terimakasih), kemudian berlalu. 

Menjelang Ramadhan seperti ini, penjaja bunga tabur bak cendawan di musim hujan, di Jalan Pabringan sebelah selatan Pasar Beringharjo nampak para penjual kembang itu memadati pinggiran jalan.

Rata-rata penjaja kembang tabur adalah wanita, kebanyakan berusia lebih dari setengah abad, rambut disanggul, dibalut jarit dan menggendong tambir (nampan dari anyaman kulit bambu).

Selain di Jalan Pabringan, para penjaja kembang tabur musiman juga membanjiri area parkir Pasar Beringharjo Lantai III, mereka mengais rejeki setiap bulan Ruwah atau menjelang Ramadhan dengan menyediakan aneka ubo rampe (syarat atau pelengkap ritual) berupa kembang tabur bagi masyarakat yang ingin melaksanakan ritual “Nyadran”, “nyekar” alias mengirim bunga ke makam leluhur.

Nyandran sendiri merupakan tradisi masyarakat Jawa yang diwariskan secara turun-menurun, sebuah rangkaian ritual berupa kenduri, besik atau pembersihan makam leluhur serta upacara ziarah kubur.

MILESIA.ID /KELIK NOVIDWYANTO – Masyarakat Jawa melakukan ritual besik, ziarah ke makam leluhur jelang ramadhan.

Tradisi ini biasanya dimulai setiap hari ke 10 bulan Islam, Rajab, atau saat datangnya bulan Sya’ban (Ruwah), puncaknya terjadi pada tanggal 15-20 (bulan Ruwah) pada penanggalan Jawa.

Menurut asal usulnya, istilah nyadran berasal dari bahasa Sansekerta “sraddha’ yang artinya keyakinan, ada pula yang menyebutnya berasal dari bahasa Jawa “Sudra” (orang awam), menyudra artinya berkumpul dengan orang awam yang merujuk pada semangat kebersamaan dan kesetaraan.

Sebagian orang juga menyebut istilah Nyadran berasal dari bahasa Arab, “Sodrun”, yang berarti Dada atau hati.

Bulan Penuh Berkah

Bulan ruwah menjadi berkah bagi penjaja bunga tabur, Mbok Muji salah satunya. Wanita setengah baya yang biasa mangkal di Jalan Pabringan, depan Pasar Senthir itu kebanjiran order, banyaknya permintaan masyarakat membuat harga kembang tabur melambung cukup tinggi.

Harga bunga tabur untuk ziarah saat ini lebih mahal dari harga beras berkualitas prima, yakni antara Rp 13.000 – Rp 15.000 per kilogram.

Menurut Mbok Muji, dari pemasok harga bunga mawar merah maupun putih sudah mencapai Rp 200.000 per keranjang besar.  Harga itu naik seratus persen dari harga biasanya, yaitu kisaran Rp 100.000 per keranjangnya.

Regine mindhak, amargi kathah tiyang ingkang betah kagem nyadran (harganya naik, karena banyak yang membutuhkan kembang tabur untuk nyadran),” jelas Mbok Muji.

Selama hampir 30 tahun berjualan bunga tabur, Muji Lestari (53) sudah terbiasa dengan kenaikan harga tersebut, ia selalu menentukan harga jual sesuai dengan harga yang diberikan para pemasok.

Bunga yang dijualnya dipasok dari Magelang, Bandungan dan Ambarawa Jawa Tengah.

MILESIA.ID /KELIK NOVIDWYANTO – Satu keranjang kecil kembang tabur bisa dihargai Rp 20.000 menjelang ruwah.

Moment kenaikan harga itu seakan menjadi buah manis yang ditunggu para penjaja kembang tabur, pasalnya saat ini omzet yang didapat terus meningkat. Dalam sehari minimal 500 ribu dibawa pulang Mbok Muji. Sementara pada hari-hari biasa, mbok Muji paling banyak menjual puluhan keranjang saja per hari dengan harga Rp 10.000 per keranjang kecil.

Lumayan kathah ingkang tumbas, kirang langkung 100 keranjang pendhak dinten-e (lumayan banyak yang beli, sekitar seratus keranjang per hari),” terang Mbok Muji. Menjelang bulan Ramadhan seperti tahun ini, Mbok Muji bisa menjual kembang tabur sebanyak 100 keranjang per hari dengan harga Rp 20.000  per keranjang kecil.

Mbok Muji memperkirakan harga jual bunga tabur akan terus mengalami kenaikan hingga masuk puasa nanti. Harga akan kembali naik di hari ke 21 puasa atau biasa disebut selikuran, saat masyarakat kembali melakukan ziarah makam leluhurnya.

Pasang – Surut Urip

Seperti sudah ter-maktub (tertulis di buku takdir), urip (kehidupan) ini ada titi kala mangsa-nya (momentum-nya), semua mengikuti alur pasang-surut sang waktu. Pada bulan-bulan ritual seperti Suro dan Nyadran penjaja bunga tabur ibarat kejatuhan durian runtuh. Kebutuhan akan kembang tabur yang membengkak akan menjadi ladang rezeky yang menggiurkan, namun tidak demikian dengan hari-hari biasa.

Pada hari-hari biasa, -kalau sedang apes (sial)- seluruh keranjang penuh berisi bunga di lapak Mbok Muji paling hanya terjual dua sampai empat keranjang. Mbok Muji hanya mengandalkan keberuntungan akan datangnya pembeli, sambil tetap merangkai bunga melati meski tidak tahu akan terjual atau tidak.

Yen mboten pajeng nggih dipepe, ning nek sampun layu-bosok dibucal mawon (kalau nggak laku ya bunganya dikeringkan, tapi kalau sudah busuk ya tinggal dibuang saja),” ujarnya lirih. (Milesia.Id/Kelik Novidwyanto)

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close