Milesiana
Trending

Rewang

Saya sering heran. Mamak (Ibu) saya, jika diminta tolong tetangga atau handai taulan yang sedang hajatan (ewuh), membantu kerja sukarela alias rewang, selalu all out, kaffah. Disemuakan waktu, pikiran, tenaga, diikhlaskannya harta, dan sudah barang tentu sekeping hatinya.

Sampai kadang yang di rumah, kami semua,  ngarep-arep. Kok, tidak pulang-pulang, tho Mamak ini. Keburu kepengen mbukak berkat ,jhe.. Haa, betapa tidak, semua yang di rumah lapar dan belum makan. Sementara kami pikir, masakan nan lezat, apapun menunya, adalah domain Mamak. Tali batin benak Mamak ke perut dan hati kami.

Nek saya tanya, Mak, kenapa tho, kok giat dan telaten betul jika rewang di rumah tetangga? Sembari cuci piring di dapur, Mamak akan menjawab, “Bocah cilik, ngertimu apa?. Nanti jika kamu wis gedhe pasti ngerti. Sebab, kelak yang bakal memetik kebaikan dari semua itu adalah kamu, Le..,” ujarnya dengan nada tenang. Mendengar jawaban itu, Saya tak hendak merecoki mamak lagi. Mlipir ke dapur, makan, dan kadang lanjut tidur.

Sekarang. Ketika anak-anak Mamak beranjak dewasa, Saya baru mengerti. Ternyata, Mamak sedang memberikan teladan. Bahwa hidup itu harus tolong-menolong, saling membantu.

Ikhlas memberi sumbangsih kepada sesama. Tanpa pandang bulu. Sebisa mungkin, bahkan, tanpa perhitungan. Tanpa mengharapkan imbalan. Karena kita ini hidup ditengah-tengah masyarakat. Kita tidak sendiri. Dan, tidak mungkin hidup sendiri.

Mamak mencontohkan dengan bersahaja. Setidaknya, kita harus cakap secara sosial. Punya kepekaan terhadap masyarakat sekitar. Agar terjalin kehidupan sosial yang guyub rukun, ayem tentrem kertoraharjo, gemah ripah loh jinawi. Agar suasana kehidupan surga maujud di kehidupan sekitar kita.

Sampai hari ini pun saya meyakini, kehidupan kita yang sekarang ini adalah berkah dari kebaikan hidup orang tua dan para leluhur kita dahulu.

Seringkali saya bernasib baik. Punya tetangga yang siap membantu momong anak. Punya tetangga yang kompak saat ronda malam. Punya teman yang tiba-tiba datang memberi orderan.

Bisa selamat dari kecelakan saat berkendara di jalan sambil tidur. Meskipun kagetnya luar biasa karena diklakson bis jurusan Jember-Banyuwangi.

Bisa lolos dari operasi lalu lintas saat lupa membawa SIM. Bisa selamat dari copet yang berlagak menawarkan jam tangan saat naik bis di terminal Jember.

Kali waktu merasa mujur saat sepeda motor terkunci rem cakramnya, persis di depan bengkel.

Saat dompet ketinggalan di ruang ATM, kok ya ada yang mengantar tanpa ada surat berharga atau uang yang hilang sepeserpun.

Suatu waktu hape ketinggalan di sepeda motor saat makan mie ayam, ndilalah diambilkan oleh orang tak saya kenal. “Mas, kalau naruh hape hati-hati, ya?”

Ketika dompet kosong, kok ya, tiba-tiba ada kawan berhutang yang membayar lunas hutangnya. Saat tak punya mobil, kok ya, ada tetangga ada yang mau memberikan tumpangan. Dan, masih banyak lagi..

Semua itu saya yakini karena ‘jimat’ dari Mamak. Jimat ampuh kebaikan Mamak saat ikhlas membantu orang lain. Jimat ampuh kebaikan para leluhur yang ikhlas di jalan tolong menolong, bantu membantu.

Maturnuwun Mamak, Bapak.. (Milesia.id/ Penulis: Fauzi Ismail/ Editor: Prio Penangsang)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close