Milemanca
Trending

Tak Sedikit yang Tewas, Ini Cara Tunawisma Jepang Atasi Teror Musim Dingin

MILESIA.ID – Negeri Matahari Terbit merupakan Negara besar, sejarah Indonesia tak lepas dari Jepang yang sempat menduduki Indonesia beberapa waktu sebelum akhirnya Indonesia merdeka.

Hingga saat ini produk otomotif Jepang bahkan merajai Indonesia menunjukkan bagaimana Jepang menjadi Negara maju bahkan jadi ‘kiblat’ baik teknologi transportasi maupun di lini lainnya.

Akhir Bulan Oktober tahun 2017 lalu saya melakukan perjalanan ke Jepang. Perjalanan tersebut disponsori oleh Suzuki Indonesia yang membiayai seluruh perjalanan terkait event prestisius Tokyo Motor Show 2017.

Saat itu saya yang masih editor di Tribunnews dan diutus untuk meliput acara tersebut.

Meski demikian liputan di Tokyo Motor Show 2017 tak bisa optimal mengingat harus ikut rangkaian jadwal perjalanan yang telah disusun Suzuki selaku sponsor perjalanan tersebut.

Dalam lima hari kunjungan satu kota yang sempat saya singgahi adalah Kota Akihabara.

Bagi penggemar JKT 48 mungkin kota ini tak asing, kota ini menjadi cikal bakal munculnya JKT 48, puluhan remaja putri cantik yang bernyanyi sambil menari dan menambah kemeriahan dunia entertainment di Indonesia.

Di kota ini senior JKT 48 yakni AKB 48 sudah lebih dulu eksis dan memiliki banyak penggemar fanatik.

Satu tempat yang tak lepas dari AKB 48 adalah Don Quijote Akihabara, sebuah gedung delapan lantai. Tujuh lantai meruoakan toko diskon dengan berbagai produk, sementara di lantai teratas untuk pertunjukan AKB 48.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Potret keramaian pejalan kaki di sebuah sudut kota besar di Jepang.

Saya sempat beli beberapa cinderamata bahkan jam tangan karena harganya miring dengan diskon toko yang menggiurkan.

Negara besar seperti Jepang tentu berbeda dengan Indonesia ya, mungkin di Indonesia sering ditemui barang bermerek tapi aspal (asli palsu) barang yang palsu tapi sangat persis dengan aslinya harganya murah, tapi kalau di Jepang dijamin tak ada barang palsu.

Semua barang yang dijualbelikan merupakan barang asli, pemerintah setempat sangat ketat terkait hal ini, bila terjadi pelanggaran si penjual mendapat sanksi hukum yang berat.

Di balik hingar bingar keramaian Kota Akihabara ada satu hal yang menggelitik keingintahuan saya.

Saat itu Jumat (27/10/2017) pukul 01.30 waktu setempat Kota tersebut masih ramai dengan aktivitas.

Keamanan di Jepang memang tak perlu diragukan, di sini gadis-gadis belia berjalan seorang diri relatif aman dan bebas dari tindak kejahatan.

Meski sudah lewat tengah malam masih banyak muda-mudi yang lalu lalang, mereka jalan kaki, ngobrol dengan teman, atau jalan santai meski seorang diri.

Tak terlihat tergesa atau khawatir ada orang yang berbuat jahat pada dirinya.

Mobil-mobil mewah juga masih berseliweran di jalan raya juga, kota itu seolah tak ada matinya.

Satu hal yang mengundang pertanyaan saya adalah beberapa sudut gedung dan pinggir trotoar ada pemandangan yang tak biasa.

Pria maupun wanita berjaket tebal tidur beralas tas atau kain.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Para tunawisma nekad tidur di pinggir trotoar di sebuah jalan Kota Akihabara, Jepang. Banyak yang tak bisa bertahan saat musim dingin.

Beberapa melindungi diri dengan kardus bekas.

Ternyata di Kota Akihabara masih ada tunawisma.

Bisa dibayangkan bagaimana GDP (Gross Domestic Product) atau pendapatan nasional bruto per kapita Jepang yang relatif lebih tinggi, bahkan Jepang mendapat ranking 24 dunia dengan per kapitanya US$ 38.633 ternyata memiliki masalah dengan tunawisma.

Bandingkan dengan Indonesia, secara peringkat Indonesia berada di urutan 118 dengan GDP Perkapita sebesar US$ 3.475, tak dipungkiri di beberapa wilayah tunawisma juga masih jadi masalah di sini.

Namun siapa menyangka Negara besar seperti Jepang memiliki masalah pelik dengan tunawisma.

Nah fakta mengejutkan lainnya masalah tunawisma di Jepang telah lama terjadi.

Penduduk Jepang ini rela tidur di sembarang tempat

CARA BERTAHAN HIDUP

Seorang warga setempat, Ryohei menjelaskan beberapa hal terkait para tunawisma ini.

Menurutnya para tunawisma ini adalah orang-orang yang enggan bekerja, mereka bertahan hidup dengan mengais-ngais sisa makanan di tempat sampah.

Cara lain untuk memenuhi kebutuhan yakni dengan mengumpulkan botol-botol plastik, botol-botol ini lalu dijual di tempat penampungan.

Biasanya cukup untuk makan tapi tak bisa untuk membayar sewa tempat tinggal.

Biaya hidup di Jepang sangatlah tinggi, terutama biaya makan dan biaya untuk tinggal.

Menurut Ryohei biaya sewa rumah di Jepang sangat tinggi, per bulan biayanya bila dirupiahkan antara Rp 7 juta hingga Rp 10 juta.

Sementara gaji standar kelas pekerja biasa yaknu Rp 20 juta hingga Rp 25 juta.

Ia menilai para tunawisma tersebut sebenarnya masih bisa bekerja sesuai dengan kemampuan standar dan bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup untuk sewa rumah dan makan masih bisa tapi tak sedikit yang memilih untuk hidu menggelandang.

Rata-rata tunawisma merupakan orang yang baru saja bangkrut atau orang yang sudah tak mau bekerja lagi.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Becak wisata di Jeoang, salah satu daya tarik bagi wisatawan. Penarik becak adalah pria-pria tampan dari kampung yang ramah dan menawan untuk menarik wisatawan agar mau naik becaknya.

TERDAMPAK TSUNAMI

Seorang warga Jepang lainnya yakni Hifumi Takimoto.

Wanita ini merupakan local guide yang mendampingi rombongan saat kunjungan ke Jepang.

Menurut Hifumi, Kemunculan tunawisma bak jamur di musim hujan ditandai setelah adanya tsunami besar tahun 2011.

“Bencana tersebut bikin banyak orang terpuruk dan tak memiliki rumah,” jelasnya.

Perekonomian di Jepang setelah kejadian itu ikut terpengaruh tapi saat ini sudah membaik.

Pemerintah Jepang pun tak tinggal diam, menurut Hifumi Jepang telah membuat program pengentasan tunawisma tapi banyak yang tak bersedia ikut.

Selain itu masalah yang beda muncul terkait kondisi mental para tunawisma, banyak yang mengalami gangguan jiwa karena tertekan seusai rumah dan keluarga tersapu tsunami.

MENGATASI TEROR MUSIM DINGIN

Hifumi kemudian menceritakan tunawisma di tempat asalnya yakni Osaka.

Menurutnya di Osaka tunawisma bahkan lebih banyak daripada di Kota Akihabara.

Teror menakutkan yakni saat musim dingin.

Menurutnya tak sedikit korban tewas lantaran tak mampu bertahan dengan udara di musim dingin.

Saat penulis di Kota Akihabara pada akhir Oktober 2018 saat itu merupakan musim peralihan ke musim dingin.

Belum masuk musim dingin saja udara demikian dingin dan bila ingin tubuh merasa nyaman harus menggunakan jaket tebal.

Bayangkan bila tunawisma saat musim dingin harus tidur di luar bermalam-malam.

Beberapa tunawisma mengantisipasinya dengan membuat kardus-kardus yang dibuat menjadi rumah-rumahan sedikit bisa menahan dingin tapi itu belum cukup.

Ketika musim dingin tiba para tunawisma mengantisipasi dengan tinggal di gedung area subway kereta bawah tanah.

Para tunawisma akan menunggu kereta selesai beroperasi yakni pada pukul 01.00 usai tengah malam waktu setempat dan mereka bangun pada pukul 05.00 pagi.

MILESIA.ID/RIMAWAN PRASETIYO – Koper misterius yang tak dihiraukan para pejalan kaki. Ternyata itu milik seorang tunawisma.

KOPER MISTERIUS

Pada Sabtu (28/10/2017) rombongan menyempatkan jalan-jalan pagi di Kota Akihabara.

Sebuah koper diletakkan di bawah jembatan rel kereta, di samping koper ada kardus-kardus besar.

Sebuah koper misterius karena tak diketahui siapa pemiliknya.

Coba bayangkan kalau koper terebut tergeletak di Indonesia di tempat umum tanpa diketahui pemiliknya, warga langsung lapor polisi lantaran khawatir kalau koper tersebut berisi bom.

Namun warga Jepang yang melewati koper itu tampak santai dan tak menghiraukan keberadaan koper.

Ternyata koper di tempat umum merupakan hal yang biasa.

Koper dan kardus itu menurut Hifumi milik seorang tunawisma.

Itu merupakan cara tunawisma untuk menyimpan barangnya dan biasanya aman-aman saja tak ada yang mau mengambil.

Tiap malam para tunawisma bahkan harus kucing-kucingan dengan polisi.

Apalagi beberapa tunawisma memilih untuk tidur d area-area publik, polisi akan mengusir mereka, sehingga banyak yang memilih untuk menjauhi keramaian.

Namun ada pula polisi yang kasihan dan membiarkan mereka tidur, terutama saat musim dingin, biasaya polisi membiarkan mereka menempati area subway bawah tanah yang melindungi diri dari musim dingin.

DATA TUNAWISMA

Masalah tunawisma sudah berlangsung lama.

Media lokal yakni The Japan Times- japantimes.co.jp pada liputan tahun 2016 mengabarkan tentang program pengentasan tunawisma yang dilakukan pemerintah Jepang.

Program Pemerintah Jepang tersebut telah membuat tunawisma bisa hidup mandiri dan mendapatkan pekerjaan yang mudah dilakukan seperti petugas kebersihan.

Pemerintah bahkan telah melakukan pendataan para tunawisma sejak tahun 1996.

Biro kesejahteraan Sosial dan Kesehatan Pemerintah Metropolitan yag diwawancarai The Japan Post saat itu menunjukkan catatan statistik terkait jumlah tunawisma yang mengalami penurunan juga peningkatan di beberapa lokasi.

Di Kota Taito misalnya, sesuai catatan di tahun 2015 terdata ada 128 tunawisma dan menurun di tahun 2016 menjadi 88 orang.

Namun ada juga yang dinilai terjadi peningkatan, di Shibuya terjadi peningkatan menjadi 107 orang di tahun 2016 naik 18 orang dibandingkan tahun sebelumnya

sedangkan Shinjuku berjumlah 97 orang naik 27 orang dibandingkan tahun 2015.

Sementara di Tokyo berdasarkan data statistik pemerintah, jumlah tunawisma di kota dengan jumlah penghuni paling tinggi di dunia itu memiliki angka fantastis yakni 1.473 tunawisma.

Meski demikian data tersebut disanggah oleh Pusat Advokasi dan Penelitian Tunawisma (ARCH), organisasi ini bahkan menyebut kalau jumlah tunawisma di Kota Tokyo capai lebih dari 1.500 orang.

Hal ini karena pencatatan dilakukan pada siang hari dan pendataan belum menyasar pada warga yang tidur di cafe internet.

Sementara itu program pengentasan pemerintah ini terkendala dengan tidak bersedianya para tunawisma ikut program pemerintah, selain itu terutama pada tunawisma yang mengalami gangguan jiwa, pemerintah butuh upaya lebih untuk mengatasi para tunawisma yang mengidpa gangguan jiwa.

Seharian di Kota Akihabara mendapatkan banyak pengalaman tak terduga, seperti fakta tentang tunawisma yang membuka cakrawala baru bahwa kota di Negara besar seperti Jepang pun memiliki masalah tentang pemenuhan hidup yang layak. (Milesia.id/Rimawan Prasetiyo)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close