MilestravelTravel
Trending

Menjelajah Hutan Raya Bunder: Ritus Klasik Kaum Biofilia

Para penjelajah menembus belantara Hutan Raya Bunder demi menyingkap keelokan laboratorium alam itu, sebuah ritus klasik yang menyuguhkan ectase bagi kaum ‘Biofilia’.

MILESIA.ID, JOGJA – HUJAN baru saja berhenti pagi ini, kabut masih menggantung di pokok-pokok akasia, jalanan basah dan licin, udara dingin serasa sembab menusuk sampai ke tulang. Lalu hamparan pepohonan di depan kami seakan muncul dalam rupa magisnya, vis a vis: Hutan Raya Bunder.

Kami berjalan menyusuri setapak, menuju jantung hutan, kicauan burung di kejauhan mengiringi irama kaki, beradu dengan desiran pucuk-pucuk bambu di sisian jalan yang menggelayut ditiup angin, lalu butiran embun berhempasan di tanah. Aroma tanah basah sekejap membangkitkan kenangan beberapa tahun lalu, hutan ini telah banyak berubah.

IST – Jalan Wonosari diapit kawasan Hutan Konservasi Gunungkidul.

Usaha Kembali Hijau

Sekitar tahun 1960-an kawasan Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi DI Yogyakarta mengalami kerusakan ekosistem dan geografis yang cukup parah. Eksploitasi hutan yang berkepanjangan pada era penjajahan Jepang, menyisakan daerah berbatu yang tandus dan gersang.

Usaha penghijauan kembali kawasan Gunung Kidul dicetuskan oleh Prof Oemi Hani’in Suseno, bermodalkan tabungan sendiri dosen fakultas Kehutanan UGM itu menjadi pelopor usaha penghijauan di tahun 1964.

Jejak langkah wanita tangguh peraih penghargaan Kalpataru sebagai ‘Pengabdi Lingkungan Penghijauan’ tahun 1989 ini kemudian dilanjutkan oleh Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY bersama UGM, berawal dari program reboisasi Hutan Wanagama I, Wilayah Hutan Bunder tak luput dari usaha peremajaan tersebut.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Hamparan hutan di kawasan Konservasi Hutan Bunder diselimuti kabut.

Hutan Bunder seluas 634,10 hektar yang terletak di daerah Gading Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul ini awalnya merupakan Hutan Produksi Tetap (HPT), statusnya berubah menjadi Taman Hutan Raya (TAHURA) sebagai bagian dari Kawasan Pelestarian Alam (KPA) sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan pada tanggal 11 Februari 2014.

Kawasan Pelestarian Alam (KPA) adalah bagian dari lingkup Hutan Konservasi, kawasan ini dengan ciri khas tertentu, baik didarat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber alam hayati dan ekosistemnya.

Kawasan pelestarian alam terdiri atas taman nasional, taman hutan raya (TAHURA) dan taman wisata alam.

MILESIA.ID /KELIK NOVIDWYANTO – Hutan Bunder ditetapkan sebagai Taman Hutan Raya yang merupakan bagian dari Hutan Konservasi.

Provinsi DIY sendiri memiliki hutan negara seluas 18.000 hektar atau 5,36 % dari luas wilayahnya. Dalam pengelolaannya, 628,05 hektar berada di bawah naungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta, 1.728,28 hektar berada dibawah Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), 634,10 hektar sebagai Tahura, dan 15.724,5 hektar dibawah naungan Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY.

“Dari luasan hutan tersebut sebagian besar kawasan hutan berada di kabupaten Gunungkidul yaitu 13.000 hektar. Salah satu potensi hutan Gunungkidul yang dapat dikembangkan menjadi kawasan pariwisata alam adalah kawasan hutan Bunder Kecamatan Playen, dan kecamatan Patuk Gunungkidul,” ujar Kepala Balai Pengelolaan Tahura, Ir Niken Aryati MP.

Menurut Niken, sesuai PP No.28 tahun 2011 tentang pengelolaan kawasan suaka alam dan pelestarian alam, di dalam Tahura ada tujuh aktivitas yang diizinkan. “Diantaranya penelitian dan pengembangan Ilmu Pengetahuan, koleksi kekayaan keanekaragaman hayati, pariwisata alam, serta melakukan penanaman tanaman langka sejak 2010,” jelasnya.

Surga Kaum Biofilia

Siapa sangka, Gunungkidul yang masyur dengan deretan perbukitan karst ini menyimpan keelokan alam yang luar biasa, salah satunya Hutan Bunder. Taman Hutan Raya Gunungkidul atau biasa disingkat Tahura Bunder ini berlokasi di kawasan konservasi Hutan Bunder, Pathuk, Gunungkidul.

Lokasinya yang berdekatan dengan Rest Area Hutan Bunder membuat Tahura dijadikan tempat favorit berkemah oleh para pecinta alam, pelajar, mahasiswa atau masyarakat umum di Yogyakarta. Sungguh surga yang indah bagi kaum Biofilia.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Setapak menuju jantung hutan

Ketertarikan bawaan manusia terhadap hutan merupakan bagian dari fenomena yang disebut “biofilia”. Mereka memiliki ketertarikan yang akut terhadap air, pepohonan dan pemandangan alam lain.

Biofilia adalah suatu hipotesis yang dikemukan seorang ahli biologi bernama Edward O.Wilson pada tahun 1984, dimana beliau mengemukakan bahwa sesungguhnya secara bawaan lahir manusia memiliki kecenderungan yang sangat kuat untuk berhubungan dengan alam atau lingkungan alaminya.

Bagi kaum Biofilia, menyambangi Tahura Bunder sangatlah mudah, lokasinya yang strategis dan dekat dengan kota Jogja tak harus membuat berlama-lama berkendara. Jalan paving block selebar empat meter di pinggir Jalan Raya Wonosari KM 30 -diapit arena bermain dan area parkir, menjadi pintu masuk jalur wisata alam Tahura Bunder.

Sekitar 1,5 km dari jalur masuk yang terletak di sisi selatan Sungai Oya, pengunjung akan langsung disuguhi unit persemaian bibit tanaman seluas lima hektar. Bibit yang dikembangkan antara lain tanaman jati, mahoni, kayu putih, sukun, dan jambu mete, untuk program reboisasi dengan produksi sedikitnya dua juta bibit per tahun.

Di sebelah timur area persemaian terdapat penangkaran rusa timor (Cervus timorensis) seluas enam hektar. Rusa timor ini secara fisik berbeda dengan kijang, karena pada kepala rusa jantan bila sudah dewasa akan tumbuh tanduk.

Selain melihat cara pemeliharaan rusa timor, pengunjung dapat ikut memberi pakan sambil menyentuh hewan liar itu di dalam kandang berukuran 40 x 40 m3. Rusa timor generasi pertama disini berasal dari Kebun Binatang Gembira Loka, Yogyakarta.

Selain fauna rusa, Tahura Bunder juga menjadi rumah bagi Burung Madu Srigati (Neclarinia jugularis), Elang Ular Bido (Spezaetus cheela), Alap-alap Sapi (Falco sylvatica), Elang alpacina (Accipter soloensis), Raja Udang (Alcade meninting), Burung Madu Kelapa (Anthreptes malaccensis),cucak kutilang (Picnonotus aurigaster) dan kepodang (Oriolus chinensis).

Keanekaragama aves ini bertambah setelah beberapa waktu lalu (25/02/2018), seekor Elang Brontok (Nisaetus Cirrhatus) dilepaskan oleh Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE), Ir Wiratno M.Sc di Taman Hutan Raya Bunder.

IST – Acara pelepasliaran Elang Brontok (Nisaetus Cirrhatus) oleh Ditjen KSDAE Ir Wiratno didampingi Kepala Balai Tahura Ir Niken.

Untuk mendeteksi keberadaan Elang tersebut di tubuhnya dipasang GPS satelit polar tenaga surya yang bisa bertahan 3 tahun. Alat ini bekerja dengan cara mengirimkan data ke satelit yang kemudian bisa dideteksi kemana elang terbang. “GPS satelit polar ini bisa dipantau menggunakan android yang sudah ada programnya,” ucap Wiratno.

Menurutnya, pelepasan Elang Brontok dan soft launching kandang rehabilitasi ini bertujuan agar ekosistemnya tetap terjaga. Wiranto juga menghimbau agar masyarakat tidak memelihara atau memburu burung-burung yang dilindungi oleh undang-undang. Jikapun ada yang ingin memelihara satwa langka sebaiknya meminta izin dari penangkaran.

“Kita berharap juga kepada masyarakat untuk melapor jika melihat ada satwa langka yang dipelihara,” tegasnya.

Sekitar 1,5 km ke arah selatan dari kawasan penangkaran rusa, pengunjung dapat melihat penyulingan minyak kayu putih di pabrik yang berdiri tahun 1980-an. Lebih kurang 500 meter ke arah selatan terdapat lokasi “camping ground” Tahura Bunder, yang berada di antara pepohonan jati. Tempat ini belakangan lebih sering digunakan sebagai tempat selfie dan bercengkerama setelah pengelola mempercantiknya dengan sentuhan furniture dan ornamen cantik, serupa di taman-taman kota.

IST – Camping ground, diantara pepohonan pinus Tahura Bunder.

Master plan untuk pengembangan wisata Tahura Bunder adalah membaginya menjadi 3 zona. Zona I terdiri dari atraksi gajah, areal cycling, camping ground, kuliner gantung dan cultur show.

Zona II terdiri dari research centre, pabrik minyak kayu putih, persemaian dan pusat indukan rusa. Kemudian zona III sebagai tempat penangkaran reptil, taman burung, koleksi satwa dan agroforestry, arboretum dan plaebotani karst.

Akhir tahun 2017 lalu, Tahura Bunder menyelesaikan gawe sebuah Rumah Pohon dan Canopy Trail. Berada di ketinggian 6-12 meter dengan panjang lebih dari 50 meter, serta dikelilingi pepohonan Mahoni, wahana ini sangat cocok untuk refreshing menikmati sejuknya udara hutan dan kegiatan birdwatching.

Semua proses pengembangan kawasan Tahura itu dilakukan dengan mengikutsertakan peran masyarakat sekitar. “Warga di kawasan Tahura dapat melakukan aktivitas setelah mengantongi izin usaha dalam rangka mendukung wisata alam. Itu baik dalam kapasitas sebagai kelompok tani hutan Tahura, maupun perorangan,” papar  Kepala Balai Pengelolaan Tahura, Ir Niken Aryati MP.

Menjaga Hutan Tetap Lestari

IST – Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY didampingi Kepala Balai Tahura Bunder menengok lokasi Tahura Bunder yang terdampak banjir kali Oya.

Banjir yang menghela kali Oya pada 27 November 2017 lalu sempat membuat beberapa sarana dan prasarana di area Hutan Bunder rusak cukup parah, beberapa areal vegetasi di petak 19 dan 21 kawasan Tahura Bunder turut terdampak banjir.

Menurut penelitian dari IPB, komposisi tegakan di tahura Bunder terdiri atas 8 jenis pohon, yaitu akasia, mahoni jati, namnam, kemiri, angsana, sengon, dan daun kupu-kupu. Keanekaragaman jenis tanaman di Tahura Bunder termasuk ke dalam kategori rendah. Status tersebut dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti serangan penyakit dan kondisi tempat tumbuh, dalam hal ini antara lain iklim dan jenis tanah.

MILESIA.ID /KELIK NOVIDWYANTO – Hutan bukanlah warisan nenek moyang kita, melainkan pinjaman dari anak cucu kita.

Sedangkan struktur vegetasi di Tahura Bunder tersusun dalam 3 strata, yaitu A, B dan C. Pada strata A terdiri dari pohon akasia; strata B terdiri dari pohon akasia, mahoni, jati, kemiri, angsana, dan daun kupu-kupu; dan strata C terdiri dari pohon mahoni, namnam, akasia, kemiri, angsana, dan sengon. Jenis tanaman yang mendominasi pada keseluruhan jalur adalah akasia (genus acacia) pada jalur 7.

Dus, proses perawatan maupun rehabilitasi kerusakan vegetasi akibat bencana alam ataupun ulah tangan-tangan manusia adalah tanggung jawab seluruh stake holder; baik pemerintah, akademisi, maupun masyarakat.

Hutan membutuhkan proses keberlanjutan yang tak henti-henti, ia harus tetap lestari. Seperti sebuah adagium klasik kaum Biofilia: “Hutan bukanlah warisan nenek moyang kita, melainkan pinjaman dari anak cucu kita.” (Milesia.id /Kelik Novidwyanto)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close