Milespop
Trending

Ketika Wanita Bertutur dengan Imaji

MILESIA.ID, YOGYAKARTA – Fotografi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Bukannya kehilangan makna justru membuka kemungkinan untuk dibaca dari berbagai sisi.

Fotografi sebagai seni kontemporer memberi ruang yang lebih terbuka terhadap karya maupun pemaknaannya.

Sebelum menjadi suatu cara berkarya yang mengizinkan hampir setiap orang bertutur dengan imaji, fotografi sebagai bagian seni kontemporer memiliki sejarah panjang.

Terdapat periode ketika hanya ada sedikit wakil dari ras, gender, dan kelas tertentu atau bahkan tidak ada sama sekali.

Tidak dipungkiri bahwa penulisan sejarah seringkali memihak.

Pada periode waktu tertentu tidak banyak fotografer perempuan yang karyanya diapresiasi secara luas dan dianggap berpengaruh.

Suatu ketidakseimbangan jumlah yang mencolok.

Porsi seniman perempuan yang tercatat dalam buku sejarah juga hak-hak politik perempuan pada umumnya menjadi isu feminisme, dimulai dengan sejarah.

Begitulah pengantar Workshop Apresiasi Seni Seri Fotografer Perempuan Dunia yang berlangsung selama dua hari dari tanggal 21-22 April di Galeri Kelas Pagi Yogyakarta.

Materi diisi oleh Alia Swastika seorang kurator seni pada sebuah galeri di Yogyakarta dan telah bekerja di pelbagai pameran dalam dan luar negeri.

Moderator acara, Kurniadi Widodo seorang fotografer mandiri yang telah menerbitkan buku foto cerita personalnya.

Workshop ini tak sekedar banjir informasi namun juga membagikan sudut pandang lain bahwa feminisme bukan melulu tentang wanita yang gemar membicarakan dirinya sendiri.

Selalu ada pertanyaan berulang mengenai perbedaan karya laki-laki dan perempuan.

Daripada menjawab ada atau tidaknya perbedaan workshop tersebut berusaha membedah karya-karya fotografer dunia melalui tema yang diangkat maupun narasi besar yang mengikuti representasinnya.

Cerita-cerita intimasi oleh Nan Goldin, perubahan sosial, kelas, dan presentasi ras dalam karya Carrie Mae Weems, maupun kekuatan tersembunyi para perempuan yang menjadi martir pada foto seri Shirin Neshat.

Tema semacam harapan, kedekatan, kecemasan, perayaan, masalah identitas adalah kondisi yang bisa hadir pada setiap manusia.

Tidak mudah menilai bahwa suatu karya diciptakan oleh gender tertentu.

Pada gilirannya pemaknaan feminisme sendiri bergeser dari tuntutan kesetaran hak-hak politik yang menganggapnya sebagai isu ketimpangan, menjadi perhargaan terhadap identitas diri, kemudian menjadi suatu sudut pandang personal.

Ketika semakin banyak fotografer dari berbagai belahan dunia menggunakan fotografi sebagai alat bertutur dan menyampaikan pesan ketimpangan belajar masih tetap terjadi.

Kelas-kelas penciptaan selalu lebih banyak daripada pembacaan dan apresiasi karya.

Sehingga workshop apresiasi seni ini adalah satu dari sedikit kelas bedah karya yang diadakan.

Indonesia sendiri rupanya memiliki lebih banyak pekerjaan rumah.

Berbagai kesulitan merujuk karya seniman lokal dipicu oleh belum adanya pencatatan secara sistematis.

Semakin sulit bagi pemula untuk membayangkan garis perkembangan fotografi di Indonesia.

Dengan kata lain Indonesia masih belum selesai dengan permasalahan bahasa tulis.

Pencatatan sistematis perlu segera dilaksanakan sehingga kita tidak buta dengan ‘pahlawan’ kita sendiri. (Milesia.id/ Penulis: Ratih Puspita/ Editor: Prio Penangsang)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close