DINAMIKA

Yuk, Menjelajah Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta..

Destinasi Eduagrowisata dan Riset Pisang Unggulan

Area Kebun Pisang, Siap Sambut Pengunjung/ANNY WIDI ASTUTI/Milesia.id

Sorot mata lusinan bocah usia Taman Kanak-Kanak itu tampak nyaris tak berkedip karena takjub. Pagi, Selasa (24/4) lalu, tubuh-tubuh mungil penuh semangat itu antusias menyimak rerimbun pohon pisang beraneka jenis yang terhampar di Kebun Plasma Nutfah Pisang (KPNP), Yogyakarta.

Bibir mungil dan pipi gembil mereka seakan tak berhenti bergerak. “Ini pisang apa? Kok bunganya merah..?,”tanya mereka  bertubi.  Ternyata, buah dengan daging bertekstur lembut, legit, dan kaya nutrisi yang selama ini mereka santap, baru sebagian kecil saja dari ratusan jenis yang mereka ketahui. Hari itu, mereka belajar mengenal aneka jenis tanaman pisang, belajar menanam, juga panen pisang.

Kali lain, lebih dari 200 pelajar sebuah Sekolah Dasar asyik menyimak pemuliaan tanaman pisang melalui kultur jaringan. Juga demo produksi criping (keripik) pisang.  Dipandu pengelola dan staf kebun plasma, tatapan mata mereka tak beranjak dari aksi mengupas, mengiris, dan menggoreng bahan baku criping yang langsung diambil dari kebun plasma. Gurih sekali..

Ya, kunjungan edukatif dari beragam kalangan, dari TK hingga mahasiswa, tak henti mengalir ke kebun plasma. Institusi milik Pemerintah Kota Yogyakarta ini, berada di bawah naungan  Bidang Pertanian, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta.

Tak sulit menjangkau lokasinya. Tak jauh dari ruas Jalan Lingkar Selatan, Malangan, Giwangan, Umbulharjo,  Kota Yogyakarta. Tempatnya khas dengan lansekap  dominan hijau oleh rerimbun tanaman.  Ditandai dengan gedung kantor cukup besar dikelilingi pagar putih dan dipenuhi aneka macam tanaman buah dan bunga yang tertata. Lebih masuk ke dalam, pengunjung akan dimanjakan dengan hamparan kebun pisang yang cukup luas.

Dengan luas lahan sekitar 1,9 hektar, kebun plasma memiliki koleksi tanaman pisang terlengkap se Indonesia dengan jumlah kultivar sebanyak 346 jenis. Berasal dari dalam negeri dan mancanegara. Tidak berlebihan jika kebun plasma pisang ini disebut sebagai museum pisang paling komplet.

Belajar mengolah hasil panen pisang/ANNY WIDI ASTUTI/Milesia.id

Beragam jenis pisang bisa dilihat dan dipelajari.  Bagi mereka yang baru mengenal pisang dari bentuk dan rasa buahnya hasil beli di pasar tradisional, kebun plasma menawarkan sensasi mengamati langsung pohon pisang raja, ambon, kepok, mas, atau pisang barangan yang banyak dijual di pinggir jalan.

Termasuk sejumlah koleksi pisang yang langka dengan nama-nama unik. Sebut saja pisang jarum papua, gendruwo, sangga buana merah, raja seribu, dan banyak lagi.

Pengelola kebun plasma nutfah pisang (KPNP) Bambang Dwi Hatmoko, kepada Milesia.id mengemukakan, karena kental dengan misi edukasi, pengunjung tak dikenai biaya masuk untuk berkunjung ke lokasi. “Untuk keperluan praktek, pengunjung hanya dibebani pengganti biaya bahan untuk praktek. Setelah selesai, bahan-bahan hasil praktek boleh di bawa pulang,” terang Bambang yang ditemui Milesia.id di kantornya, Jumat (27/4). “Per tahun, rata-rata  jumlah pengunjung kebun plasma pisang mencapai 2.500 orang dan terus meningkat jumlahnya,” imbuh Bambang.

Pelestarian Kultivar dan Kuliner Berbasis Pisang

Benih Kultur Jaringan/ANNY WIDI ASTUTI/Milesia.id

Kebun plasma nutfah pisang ini berfungsi untuk melestarikan kultivar yang dimiliki, juga bertujuan konservasi, sebagai lahan hijau kota, serta untuk sarana edukasi publik.

Kepada Milesia.id, Kabid Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Pemkot Yogyakarta, Ir. M. Imam Nurwakhid mengemukakan, di samping untuk konservasi kekayaan hayati, pusat perkebunan pisang dan hortikultura, kebun plasma nutfah pisang juga menjadi destinasi agrowisata, outing class, magang dan penelitian.

“Beberapa hal yang sudah dan akan kami laksanakan, adalah reidentifikasi, rebloking, dan pengolahan lahan. Penyiapan sarana edukasi, rekreasi, dan layanan publik. Serta mapping keseluruhan area mengacu grand design yang sudah dibua,” imbuh Imam.

Kebun plasma kini terus mempercantik diri dengan penambahan sarana dan prasarana pendukung guna  meningkatkan kenyamanan pengunjung. Diantaranya pembangunan pendopo di tengah kebun yang berfungsi untuk menerima tamu kunjungan edukasi.

Seperti dilihat Milesia.id Jumat (27/4) siang, misalnya, terlihat proses pembangunan pendopo di tengah kebun terus dikebut. Sejumlah pekerja juga tampak mengolah sebidang tanah dan menyiapkan bibit untuk rejuvinasi. Peremajaan lahan dan tanaman merupakan rutinitas lazim di kebun plasma.

Di kebun ini, setiap hari selalu saja ada tamu yang datang berkunjung. Perorangan, keluarga, maupun rombongan. Sekedar jalan-jalan untuk menikmati kenyamanan kebun sambil melihat koleksi pisang yang sangat beragam, berkonsultasi tentang teknik budidaya pisang, mencari informasi tentang kebun, praktek magang, hingga belanja bibit pisang.

“Ihwal kendala memang selalu ada. Salah satunya adalah masih kurangnya tenaga breeding dan budidaya. Hal ini dikarenakan komoditas yang dikelola sangat bervariasi dari sisi spesies dan karakter,” papar Imam. Ditambahkan, sejauh ini Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pemkot Yogyakarta dinilai proaktif mendukung kemajuan kebun plasma pisang.

Untuk kunjungan edukatif, disediakan jadwal khusus hari selasa dan kamis. Rombongan yang belajar di kebun ini tercatat dari level Taman Kanak-Kanak hingga pasca sarjana dari Yogyakarta, Jateng, bahkan  luar Jawa.

“Dari kalangan masyarakat umum, tercatat kelompok-kelompok tani hingga organisasi masyarakat Tamu dari mancanegara juga tidak sedikit yang meluangkan waktunya untuk belajar di sini,” ujar Bambang.

Bambang Dwi Hatmoko (kanan), bersama Kabid Pertanian Dinas Pertanian dan Pangan Pemkot Yogyakarta, Ir. M. Imam Nurwakhid/ ANNY WIDI ASTUTI/ Milesia.id

Fasilitas kebun pisang yang luas dengan keragaman genetiknya menjadi nilai lebih kebun plasma. Untuk belajar teknik budidaya, transplanting  dan seluk beluknya, didukung keberadaan laboratorium kultur jaringan. Laboratorium kultur jaringan sekaligus  berfungsi mem back up ketersediaan benih unggul pisang.

Produksi benih melalui kultur jaringan sanggup menyediakan benih dengan jumlah banyak dalam waktu singkat, ukuran seragam, dan bebas hama penyakit. Sekaligus menghemat biaya packing dan transportasi karena ukuran benih hasil kultur jaringan lazimnya lebih kecil dibandingkan benih hasil pembiakan tunas dari indukan pisang di kebun koleksi. Beberapa jenis pisang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi seperti pisang raja, ambon, kepok, mas, koja berhasil diperbanyak menggunakan teknologi ini.

Di area kebun plasma, tersedia juga laboratorium olahan hasil pisang, serta varian olahan produk kuliner berbahan baku bersumber dari pohon pisang. Mulai dari buahnya, daun, bunga, kulit buah, sampai bonggol pisang. Semua bagian dapat diolah menjadi aneka produk kuliner yang lezat dan sarat gizi.

Minuman sari buah pisang, sirup pisang,  krupuk bonggol, ceriping, nugget pisang, tepung pisang, adalah beberapa jenis hasil pengolahan pasca panen yang bisa dipelajari sekaligus dicicipi di kebun plasma.

Sebagai pelengkap, kebun plasma juga menyediakan aneka benih tanaman buah, tanaman obat keluarga (toga), hortikultura, tak ketinggalan tanaman hias.

Populerkan Raja Bagus dan Aneka Pisang Unik

Koleksi Pisang Langka/ ANNY WIDI ASTUTI/Milesia.id

Kebun Plasma Nutfah Pisang Yogyakarta terus mengintensifkan diri demi misi menjadi lembaga riset dan edukasi publik tentang pisang yang profesional. Guna meningkatkan kenyamanan pengunjung yang terus meningkat, pengelola terus memperbaiki performa kebun dan meningkatkan fasilitas pendukung.

Bambang Dwi Hatmoko, kepada Milesia.id mengemukakan, ke depan KPNP diarahkan menjadi pusat riset pisang nasional. “Plasma  (KPNP) diarahkan menjadi pusat pisang (Banana Center) berskala nasional. Dengan kegiatan meliputi budidaya yang didukung laboratorium kultur jaringan dan laboratorium pengolahan yang terintegrasi,” papar Bambang.

Indonesia dengan potensi luas lahan dan klimat yang sangat cocok untuk produksi dan pengembangan kultivar pisang, sayang jika tidak didukung lembaga riset yang memadai. Apa boleh buat, jumlah lembaga riset spesifik (Banana Center) di negeri ini masih bisa dihitung dengan jari. Selain kebun plasma pisang  Yogyakarta yang eksis sejak 1988, ada Bali International Research Center for Banana (BIRCB), yang belum genap setahun berdiri.

BIRCB, seperti bisa dibaca di situsnya, merupakan pusat riset dan inovasi yang menggabungkan beberapa peneliti, pemerhati, pengambil keputusan, pebisnis, pemerintah daerah, komunitas lokal yang membentuk aliansi bersinergi satu dengan lainnya secara berkelanjutan. BIRCB merupakan kolaborasi Universitas Udayana dengan Institut Teknologi Bandung.

Dihubungi Milesia.id, Jumat (27/4), Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Pemkot Yogyakarta Drs. Sugeng Darmanto mengemukakan, “Kebijakan teknis lapangan niscaya diarahkan untuk menjawab tantangan dan semua peluang yang ada. Itu memotivasi kami semua agar ke depan kebun plasma pisang menjadi lebih baik dan semakin profesional,” papar Sugeng.

Drs. Sugeng Darmanto/ ANNY WIDI ASTUTI/Milesia.id

Pemerintah, juga publik, memang pantas mendukung visi kebun plasma nutfah pisang Yogyakarta untuk menjadi kawasan eduagrowisata yang berkualitas. Termasuk menjadi banana center dalam rangkamengembangkan pisang varietas jempolan macam pisang Raja Bagus. Juga memuliakan beberapa jenis pisang langka guna kepentingan riset dan edukasi.  Sebut saja pisang Raja Seribu, Sangga Buana Merah, Pisang Kipas, Jarum Papua, Pisang Gendruwo, Becici, badak, hingga Pisang Morosebo.

Pisang Gendruwo? Unik, bukan? Namanya lekat dengan sosok hantu yang familiar di kalangan masyarakat Jawa. Pisang asli Yogyakarta itu dinamai demikian bukan karena sosoknya nggilani dan rasanya tak enak. Sebaliknya, penampilan buah yang besar-besar berwarna merah gelap, senada dengan warna batangnya, menjadikan gendruwo yang satu ini sungguh eksotik dan pantas dilirik sebagai tanaman koleksi, di samping rasa dan tekstur dagingnya yang manis, halus dan kaya nutrisi.

Pisang langka lainnya adalah pisang lase. Apa hebatnya? Sekali berbuah, pisang lase bisa mengeluarkan lebih dari satu tandan. Ukuran buahnya terbilang cukup besar menyerupai pisang ambon. Rasanya yang lezat menempatkan pisang ini sebagai buah meja yang nikmat disantap.

Pisang Raja Bagus termasuk jenis pisang unggul yang layak dikembangkan. Pelepasan kultivar Raja Bagus oleh Kementerian Pertanian bahkan sudah sejak 2011 silam. Dalam beragam acara seremonial, penampilan menarik Raja Bagus menempatkannya sebagai ikon buah Kota Yogya.

Pisang raja bagus rasanya lebih manis dibanding pisang raja lainnya, termasuk pisang raja bulu yang lebih umum dikenal penikmat pisang. Dengan karakteristik bentuk buah tidak terlalu panjang dan ujung buah bulat, daging buah berwarna kemerahan. Raja bagus juga memiliki nilai ekonomis tinggi. Di pasaran, harganya bisa mencapai Rp 700 ribu per tandan. (Milesia.id/ Penulis: Anny Widi Astuti/ Editor: Prio Penangsang)

 

 

 

 

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close