Milestories
Trending

Gila! Bayangkan Bila Aksi ‘Pemuda Madiun Bergerak’ jadi Wabah Menular

Ketika Seorang Ibu Menangis, Banyak Utang di Tetangga karena Lapar

MILESIA.ID, MADIUN – Bila ada yang menilai generasi muda saat ini hanya identik dengan hura-hura,kesana-kemari dan hanya nongkrong belaka, mungkin Anda belum mengenal sekelompok pemuda ini.

Sebuah organisasi kaum muda yang berbeda, merekalah pahlawan sesungguhnya lebih mulia bila dibandingkan aksi pahlawan super yang sedang tayang di bioskop saat ini.

Mereka tak sekadar merasakan lapar yang didera orang lain tapi juga bergerak untuk ‘memberi makan’, sekaligus beri solusi agar bisa mandiri demi sesuap nasi.

Milesia.id berhasil mengorek kiprah heroik sekelompok anak muda yang sangat menginspirasi.

Bayangkan bila langkah para muda-mudi ini menjadi wabah menular dan semua pemuda di Indonesia bergerak dengan langkah senada.

Gila!

Tak akan ada lagi tangisan-tangisan kelaparan di sudut sunyi sebuah gubuk reyot.

Tak akan ada lagi anak telantar, anak-anak tak berpendidikan yang bingung tak bisa bayar SPP, serta berbagai kesulitan yang dirasakan rakyat ekonomi lemah.

Adalah Mariyono, pelajar SMK 5 Madiun.

Sosok ini menjadi gambaran nyata aksi sekelompok pemuda ini.

Mariyono merupakan seorang yatim dengan ibu yang hanya bekerja sebagai buruh serabutan di Desa Doragan RT 14/04, Desa Mungut, Kecamatan Wungu, Madiun, Jawa Timur.

IST – Aksi PMB untuk Purnomo yang tinggal di Desa Sumberejo, Saradan.

Demi menuntut ilmu, ia tak jarang harus berjalan kaki 4 km setiap hari, setiap berangkat sekolah.

Namun terkadang ia meminjam sepeda tetangga atau kalau tidak ia akan berjalan 1 km menuju rumah teman untuk nebeng hingga sampai ke sekolah.

Sepulang sekolah dia bantu ibunya untuk bekerja sebagai buruh serabutan di tetanga-tetanga yang membutuhkan.

Remaja ini cukup berprestasi di kelasnya, ia selalu mendapat peringkat sepuluh besar.

Kondisi di sekolah, Mariyono sudah menunggak Sumbangan Pembinaan Pendidikan (SPP) atau sering disebut  ‘biaya sekolah’ selama 3 bulan.

Selain itu ia juga dihadapkan dengan tugas sekolah untuk menempuh Praktik Pengalaman Lapangan (PPL).

Kondisi ini menuntut dia melangkah lebih jauh ke kota juga biaya yang lebih banyak.

Beberapa hal tersebut sempat membuat Mariyono berniat untuk berhenti sekolah karena mencari uang untuk membantu orang tua  ia nilai menjadi hal yang lebih utama,

Sosok Maryono inilah yang menjadi ‘sasaran’ bantuan dari sekelompok pemuda yang tergabung dalam Pemuda Madiun Bergerak (PMB).

Irwan Budianto, inisiator juga ketua umum PMB menuturkan, keadaan keluarga Mariyono yang memprihatinkan tersebut pada Milesia.id.

Sebelum memberikan bantuan, PMB akan melakukan survei terebih dahulu.

“Ketika ditemui tim survei, ibunya menangis karena sudah banyak hutang di tetangga, hanya untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Jangankan biaya SPP dan pembiayaan untuk PPL, untuk makan sehari-hari saja setangah mati untuk mendapatkannya,” jelas Irwan.

IST – Foto bersama Tim PMB sebelum melancarkan aksi di Desa Pilang Kenceng.

Sementara itu hasil buruh serabutan di tetangga dibayar alakadarnya, hanya cukup untuk beli beras.

Saat sepi pekerjaan atau sakit dia harus utang tetangga untuk makan.

“Tetangga di sini baik, saya sering dibantu untuk makan, banyak pula yang memberi pekerjaan alakadarnya hanya sekedar membantu kami,” ujar Ibu Mariyono yang disampaikan Irwan pada Milesia.id.

Sedangkan bantuan pemerintah terrnyata tidak menyentuh keluarga ini.

Sedangkan menurut Riyan seorang anggota PMB, Mariyono dikenal sebagai pemuda yang baik dan rajin karena, ia selalu membereskan rumah sebelum berangkat sekolah maupun setelah pulang dan kemudian menyusul ibunya membantu bekerja.

Sosok seperti Mariyono memenuhi kriteria untuk mendapatkan bantuan dari PMB.

Setelah mengetahui kondisi memprihatinkan dari Mariyono dan keluargaya, di akhir bulan Maret lalu, berangkatlah tim PMB membawa sebuah sepeda merek Polygon bekas pakai.

Sepeda tersebut masih layak lantaran baru dipakai 4 bulan, Tim PMB membeli sepeda tersebut dengan harga  Rp. 700 ribu.

Selain sepeda yang bertujuan agar  memudahkan Mariyono berangkat sekolah, PMB juga memberikan bantuan berupa empat ekor ayam, sekaligus kandang dan pakannya.

Diharapkan ayam tersebut bisa beranak pinak dan hasilnya bisa digunakan sebagai tabungan apabila Mariyono butuh uang suatu hari nanti.

Sedangkan untuk ibu Mariyono diberikan bantuan uang tunai untuk modal usaha serta satu karung beras seberat 25 kg.

Tak berhenti di sini PMB juga melakukan pendampingan pada Mariyono dan menemui pihak sekolah terkait kekurangan biaya SPP.

Buah dari pendampingan ini, kepala sekolah siap membantu untuk membebaskan uang SPP Mariyono.

Aksi untuk Mariyono adalah kisah nyata, ini merupakan salah satu sepak terjang PMB dari sekian banyak penerima manfaat yang lain.

Tercatat sudah 25 orang lebih yang telah mendapat manfaat dari keberadaan PMB dari bulan Januari hingga Maret 2018.

Bulan Januari  ada tiga sasaran, Februari empat sasaran dan Maret 18 sasaran.

IST – Irwan Budianto, inisiator dan Ketua PMB saat bertemu dengan calon sasaran program.

PEMUDA MADIUN BERGERAK

Apa itu Pemuda Madiun Bergerak?

Kok bisa membantu, dananya didapat dari mana?

Lalu apa tujuannya?

Pemuda Madiun Beregerak adalah sebuah gerakan yang didirikan di bulan Desember 2017 akhir.

Organisasi ini diilhami dari kepedulian pemuda pada lingkungannya yang berbasis primordial.

Basis ini bertujuan untuk membatasiruang lingkup wilayah kerja komunitas.

Komunitas ini berupaya membantu pendidikan di daerah pelosok melalui motivasi dan aksi berbagi serta peduli pendidikan.

Selain itu juga memberi modal usaha dan santunan kepada lansia serta fakir miskin yang benar-benar membutuhkan.

PMB juga peduli pada lingkungan dengan program pengembangan kawasan hijau dan pemanfaatan lahan pekarangan.

Sasaran program dari kelompok ini adalah orang-orang yang terpinggirkan dan jarang disentuh oleh bantuan pemerintah atau pihak lain.

Kelompok ini menyalurkan bantuan setiap bulan sekali kepada kelompok atau warga sasaran.

Metode penentuan sasaran itu didapat dari informasi anggota dan pihak luar.

Berdasarkan informasi tersebut kemudian dilakukan pengamatan beberapa waktu.

Kemudian Verifikasi calon penerima ini dilakukan pada awal bulan.

Pelaksananya adalah anggota yang berlokasi paling dekat atau memiliki waktu luang dan tenaga.

Kegiatan pemantauan ini bertujuan untuk mengetahui keadaan riil calon penerima manfaat, serta penyesuaian kebutuhan penerima bantuan.

Bantuan yang disalurkan biasanya beras, mie, telur, sabun, susu, dan uang tunai.

“Pada kesempatan tertentu bisa jadi disertakan ayam, kandang beserta pakannya” jelas Irwan.

Ia menambahkan sumber dana PMB diperoleh dari donatur, yakni siapapun yang ingin berkontribusi dan memiliki kepedulian terhadap program ini.

Donasi dan sumbangan bisa dari masyarakat Madiun yang tak terkait dengan kepentingan partai, sponsorship dan lain-lain.

“Banyak tawaran yang sudah masuk tapi kami semua menolaknya” imbuh pengusaha tanaman hias ini.

Cara menjaring donatur dengan publikasi via media social.

Selama ini media sosial yang diandalkan untuk publikasi adalah Facebook dan Twitter serta grup WhatsApp.

Sementara dana utama berdasarkan iuran sukarela anggota PMB.

Kegiatan ini bertujuan untuk memupuk kepedulian anggota PMB pada orang lain yang membutuhkan.

PMB mengutamakan kaderisasi, organisasi ini juga tidak pernah menekan anggota untuk berdonasi atau turut serta dalam menyalurkan bantuan.

Menurutnya berdasarkan pandangan PMB, kepedulian pemuda adalah investasi.

Pemuda sebagai penerus pengambil keputusan di Madiun di masa mendatang.

“Seperti tertuang dalam kitab Ihya’, ketika kita berbuat makruf maka dengan sendirinya akan berbuat nahi mungkar,”  sebut pria yang juga Magister Ekonomi Pertanian UGM ini.

Irwan berharap, Upaya ini akan mendorong warga sekitar dan pemerintah desa atau aparatur Negara untuk ikut membantu sesuai dengan kapastiasnya.

“Kalau orang luar jauh-jauh itu perduli, masak yang dekat tidak mau peduli” jelasnya.

PMB berkoordinasi setiap bulan sekali, biasanya dilakukan sebelum aksi dilakukan.

Pada hari yang sudah ditentukan, anggota baik yang akan ikut ke lapangan maupun tidak ikut kelapangan terkait penyaluran bantuan dikumpulkan.

Koordinasi dilakukan sambil ngopi di sebuah rumah anggota.

Setelah itu, yang bersedia ikut menyalurkan bantuan akan meluncur ke sasaran, sisanya akan kembai ke wilayah atau kesibukannya masing-masing.

Bagi yang jauh atau di luar daerah tidak dipaksa, hasil koordinasi diposting dalam grup WhatsApp demikian dengan aksi yang dilakukan.

Pelaksanaan juga akan dilaporkan dalam grup WA, media sosial FB danTwitter untuk menjaga transparansi.

Sekarang anggota PMB sudah ratusan tapi Irwan enggan menyebut jumah pasti.

Di akhir perbincangan, menurut Irwan kemerdekaan Negara ini tidak lepas dari kepedulian para pemuda terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat di sekitarnya.

“Dan energi itulah yang mempersatukan anak bangsa berjuang melawan ketertidasan dan ketidakadilan,” tutup Irwan Budiyanto. (Milesia.id/ Penulis: Ahmad Dzuha/ Editor: Rimawan Prasetiyo)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close