ANALISA

Menyulap PKL Juara ala Singapura

Ibarat dua sisi mata uang,  pedagang kaki lima (PKL) di Indonesia sering digusur sekaligus dielus. Secara ekonomi, ia masih jadi andalan kaum marjinal yang berharap mengais rupiah secara halal demi menambal ekonomi keluarga. Di negeri tetangga, Singapura, PKL jadi lansekap penyemarak wisata kota. Dikelola terorganisir, tertib, resik, bahkan jadi ikon wisata berkelas dunia. Berikut reportase Milesia.id dari sejumlah kunjungan ke negeri Merlin itu.

Prio P/Milesia.id

 

Hawa kawasan Bugis Street terik menyengat, pekan kedua lalu. Dikempit Rocchor Street, Victoria dan Queen Street, kawasan belanja jalanan terbesar di Singapura itu, tak pernah lengang. Lalu lalang pejalan kaki dari berbagai bangsa tumpah di kawasan belanja dengan lebih dari 800 gerai itu.

“Ini lumayan murah, Mas, tiga biji cuma sepuluh Dollar,” papar Syamsu, seorang wisatawan asal Bogor yang ditemui Milesia.id tengah memilah gantungan kunci. Hari itu, Syamsu dan sejumlah temannya membelanjakan ratusan Dollar Singapura, memborong kaos, gantungan kunci, tas, hingga produk coklat. “Lumayan, oleh-oleh khas Singapura untuk keluarga di rumah,” ujar paruh baya ini sumringah.

Menyambangi Bugis Street, terlebih di akhir pekan, besar kemungkinan akan menjumpai orang-orang Indonesia. Ya, kawasan itu merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan asal Indonesia

Seperti dikemukakan Area Director Indonesia Singapore Tourism Board (STB) Michele Wooi, yang dihubungi Milesia.id via surel, lima tahun lalu (2013) saja, belanja wisatawan Indonesia di Singapura mendekati Rp 30 miliar. “Total, spending wisatawan Indonesia di Singapura tercatat USD 2,978 juta. Angka itu disumbang melalui 3,089 juta wisatawan Indonesia,’’ kata Wooi. Kini, angkanya melejit mendekati Rp 38 miliar.

Total jumlah kunjungan wisatawan ke Singapura mencapai 15,6 juta dengan Indonesia di posisi nomor wahid. Dipaparkan Wooi, kenaikan kunjungan wisatawan dari Indonesia didorong banyaknya penerbangan langsung, diantaranya dari Surabaya. Wooi mencatat sedikitnya ada empat maskapai yang memiliki penerbangan langsung Surabaya-Singapura. Dari mana saja asal wisatawan Indonesia yang gemar menyambangi Singapura?’’Asal wisatawan yang berkunjung ke Singapura terbanyak dari Jakarta, disusul Surabaya, Medan, dan Yogjakarta,’’ urainya. Menurut Wooi, hampir sebagian besar kunjungan didominasi berlibur dibandingkan dengan kepentingan bisnis.

Dulunya Sarang ‘Bencong’

Prio P/Milesia.id

Gemerlap bisnis pedagang eceran dan PKL kawasan Bugis Street tidak muncul tiba-tiba. Siapa sangka, di awal 1950an hingga 1980, kawasan itu lekat dengan dunia malam nan kumuh.

Di tahun 1950-an, kawasan itu terkenal secara internasional lebih sebagai area dugem dan hiburan malamnya. Kaum waria yang berpakaian seronok berkumpul menjajakan diri kepada para pelaut dan staf militer dari mancanegara.  Jalan Bugis Street lantas jadi riuh.

Gerobak dorong berkumpul untuk menawarkan berbagai pilihan barang murah dan makanan kaki lima. Ia menjadi surga kaki lima yang bebas menjajakan apapun dengan aman sentosa.

Tiga dekade kemudian, Bugis Street menjelma menjadi kawasan belanja eceran yang khas. Renovasi besar-besaran menyulap Bugis Street menjadi lebih tertata.

Aneka produk  retail, mulai dari busana dan assesori yang menawan dan modis hingga layanan kecantikan seperti gerai perawatan kuku dan salon rambut, tersedia di situ. “Ini saya belanja tas untuk oleh-oleh, bagus dan harganya terjangkau,” papar Mai, turis asal Chiangmai, Thailand. Kepada Milesia.id, perempuan dengan rambut pendek bercat marun itu memamerkan hasil belanjanya. Diantaranya tas, parfum, dan cat kuku.

Menurut Michele Woo, pada tahun 1980an pemerintah Singapura mulai menata kawasan itu dengan aturan yang ketat, termasuk PKL. “Kami menciptakan standar baku untuk mengelola semua pedagang. Diantaranya jenis produk, standar kelayakan produk, dan waktu berjualan”.

Aturan tegas itu seakan mencekik leher PKL manapun yang melanggar. “Pedagang food and baverages skala kecil, misalnya, kami wajibkan mencantumkan larangan merokok dalam ruangan,” imbuh Michele. Tak main-main, denda untuk pelanggar mencapai limaribu dolar Singapura atau setara Rp 50 juta. Manteb betul!

Usaha kaki lima yang dikelola sungguh-sungguh di negara pulau itu memang fenomenal. Kombinasi antara ketegasan dan konsistensi pemerintahnya. Menjadikan rakyat patuh untuk kebaikan bersama.

Belum lama ini, Singapura bahkan sukses mengadakan event kuliner terbesar di dunia, World Street Food Congress. Menyabet sejumlah penghargaan dari World Food Street Award yang menempatkan Singapura sebagai salah satu kawasan kuliner kaki lima terbaik di dunia.

Kelima kategori yang didapat Singapura meliputi Best Street Food City, Street Food Entrepreneur of The Year, Best Street Food Hawker Centres/Hawker Streets, Street Food Masters of The Years, dan Best Street Food Cafe.

Keberhasilan ini didapat dari kerja sama Pemerintah Singapura, pedagang kaki lima, pemain industri kuliner, serta dukungan komunitas kuliner yang serius mengangkat kuliner kaki lima hingga menjadi daya tarik wisata.

Manajemen profesional dan promosi cerdas menjadi faktor utama penggerak kemajuan kuliner kaki lima di Singapura. Pajak yang ditarik dari para pedagang kaki lima digunakan untuk mengelola para pedagang itu dengan memberikan tempat khusus untuk berkumpul, dikenal juga dengan sebutan hawker centre.

Penerapan konsep food market oleh Pemerintah Singapura juga dilakukan dengan memberlakukan izin NEL (National Environment License) kepada pedagang yang ingin membuka usahanya. Dengan izin tersebut, PKL mendapatkan edukasi yang profesional layaknya sistem operasional prosedur restoran.

Pedagang akan dijarkan cara mencuci piring yang tepat, pelarangan meracik hidangan langsung usai memegang uang, hingga mengirim pelaku usaha kuliner ke New York dan beberapa negara percontohan untuk mendapatkan pelatihan yang intensif.

Beda Singapura dengan Indonesia. Di sini, meskipun pedagang kaki lima pinggir jalan tidak dikenakan kewajiban membayar pajak 10 persen dari setiap menu yang terjual, pungutan liar masih marak terjadi. Alhasil, pedagang kuliner kaki lima di Indonesia terlihat semrawut tanpa pengelolaan yang tepat. Kesan kuliner kaki lima yang kotor, berdebu, menggunakan bahan tidak berkualitas masih sering terdengar.

Prio P/Milesia.id

Pakar tata kota dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Prof. Henny Warsilah mengemukakan, tetakelola PKL terbaik seperti di Paris, Istanbul, Amsterdam, ditata dengan sangat rapi. “Hanya yang memiliki lisensi yang diperkenankan berdagang. Misalnya, di trotoar Sungai Seine, kios-kios berjejer sangat rapi menempel dinding pembatas sungai. Berjualan buku bekas dan lukisan tentang kota,” papar peneliti jebolan Social Transformation di Paris 1 Sorbonne, Perancis itu.

“Di Istanbul juga demikian. Para PKL dipusatkan di kawasan turis dan pasar sentral. Umumnya menjual cinderamata,” papar Henny kepada Milesia.id yang mewawancarainya, Rabu (25/4).

Henny menilai, di sejumlah kota di Indonesia PKL memiliki sejumlah stratifikasi yang kompleks. “Stratifikasi itu bisa dilihat dari jenis komoditas yang diperdagangkan hingga asal daerah pedagangnya,” ujar Henny.

“Di Bogor, misalnya, stratifikasi terendah itu lazimnya ditempati penjual sayuran. Mengacu kedaerahan, etnis Minang umum menjual produk tekstil, Sunda sayur mayur dan Jawa menjual makanan, dan seterusnya,” ujar Henny. “Jika dikelola dengan baik, mereka dapat berkontribusi pada APBD sampai tigapuluh persen”.

 

Rapi Sebatas Festival

Sejarah Pedagang Kaki Lima (PKL) di Indonesia terentang dalam sejarah panjang. Kehadiran mereka di bisa dirunut hingga ke zaman Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles (1811-1816).  Satu masa, Raffles memerintahkan beberapa pemilik gedung di jalanan utama Batavia untuk menyediakan trotoar selebar lima kaki (five foot way) untuk pejalan kaki.

Menurut William Liddle dalam “Pedagang yang Berkaki Lima”, saat bertugas di Singapura pada 1819, Raffles kembali menerapkan kebijakan ini di Chinatown. Lantas terjadi kesalahan penerjemahan istilah five foot ke bahasa Melayu. “Five foot rupanya disalahmaknakan sebagai kata majemuk.

Prio P/Milesia.id

Dalam menerjemahkannya ke dalam bahasa Melayu, orang membalikkan hukum MD (menerangkan-diterangkan) Inggris menjadi hukum DM (diterangkan-menerangkan) Melayu, sehingga terjemahannya bukan lima kaki, melainkan kaki lima,” (Mayapada, 15 Desember 1967).

Meski dibuat untuk pejalan kaki, ruang itu justru ditempati para pedagang sehingga orang menyebut mereka pedagang kaki lima. Istilah ini menjalar ke Medan. Dari Medan sampai di Jakarta dan menyebar ke kota-kota di Indonesia.

Sama-sama terentang dalam sejarah panjang, PKL Indonesia tak semujur koleganya di Singapura. Indonesia belum memiliki regulasi baku dan komprehensif dalam tatakelola pedagang kaki lima. PKL masih dibenci sekaligus dirindu.

Soal ketertiban dan ketaatan pada aturan, misalnya, PKL tak jarang ditangkapi dan dikriminalkan. Giliran saat butuh untuk pencitraan, ia dipoles habis-habisan.

Empat tahun silam, ketika DKI Jakarta dipimpin Gubernur Basuki Tjahaya Purnama, Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Perdagangan Pemprov DKI Jakarta meresmikan area pedagang Kaki Lima Night Market 2014, yang akan diselenggarakan selama empat bulan, dari September hingga Desember 2014.

Night Market diniatkan untuk memfasilitasi pengusaha mikro, terutama pedagang kaki produk kuliner maupun non kuliner, untuk memasarkan produknya. Kaki Lima Night Market 2014 diselenggarakan selama 17 kali, setiap Sabtu mulai pukul 17.00 sampai 23.00 WIB, di sepanjang Jalan Medan Merdeka Selatan. Tercatat 400 pedagang yang terlibat dengan separuhnya menjajakan produk kuliner. Hanya yang memiliki KTP DKI Jakarta saja yang boleh berjualan di situ.

Di era Gubernur Anies Baswedan, penataan PKL kembali berubah. Bahkan, sejumlah ruas jalan yang semula steril, kawasan Jatibaru, Tanah Abang, misalnya, kembali dibuka untuk PKL. Tak ayal, ini menimbulkan friksi baru dengan kalangan pemilik angkutan kota yang terganggu rutenya.

“Harusnya sesuai dengan aturan. Zona mana yang bisa dipergunakan untuk berdagang dan waktu (hari) nya kapan, jenis dagangan dan jumlah pedagangnya ditata. Serta tidak menutup fungsi jalan utama dan mengganggu pejalan kaki,” papar Henny.

Menurut Henny Warsilah, untuk penataan PKL yang cukup bagus di Indonesia bisa dilihat di kawasan Malioboro, Yogyakarta.  Ikon wisata Kota Yogyakarta itu, kini memang terlihat bersih dan rapi. Termasuk kawasan Pasar Beringharjo di Selatan Malioboro.

Biarpun begitu, menata PKL kawasan Malioboro bukannya tanpa kendala. Salah satunya adalah kehadiran PKL liar yang secara sporadis masih sering muncul. Juga fenomena PKL, terutama penjaja kuliner, yang , menaikkan harga secara tak wajar. Tak ayal, pemangku kebijakan kudu rajin turun ke bawah untuk menyosialisasikan semua aturan.

Mengacu Peraturan Walikota (Perwal) Yogyakarta No. 37 Tentang Penataan  PKL Kawasan Khusus Malioboro  yang diperoleh Milesia.id, lokasi berjualan dan komoditas yang diperdagangkan, diatur secara tegas. Termasuk bentuk lapak hingga jumlah pedagang yang jumlahnya dibatasi dan tidak ditambah.

 

Lim Wee, Sampai Tak Sanggup Potong Es Krim Lagi..”

Prio P/Milesia.id

Keriput wajah dan gesture tubuhnya tak bisa menipu. Usianya lebih dari 70 tahun. Sejenak lupakanlah usia Pak Tua dan cobalah tengok betapa cekatan jemari keriputnya mengiris ‘bata’ Es Krim rasa durian nan kuning cerah itu menggunakan pisau stainless.

Hati-hati dia meletakkan irisan es krim bertekstur lembut sepanjang sepuluh senti dan tebal tiga senti itu di kempitan roti tawar. Terakhir, melapisi ‘sandwich’ es krim dengan plastik bening sebelum diserahkan kepada pemesan yang menyorongkan pecahan satu dolar.

Slurrpp.. Milesia.id sejenak lupa dengan terik dan seronoknya kawasan Orchard Road manakala lidah mulai menari menjilati bongkah es krim nan segar dan lezat.

Lim Wee, nama pak tua itu. Seperti tertera pada selembar kertas putih berlaminating yang dilekatkan di salah satu sisi gerobak es krimnya. Bahasa Inggrisnya patah-patah, alhasil susah mengorek keterangan lebih dalam dari Lim Wee.

Yang jelas, Ia mulai berjualan es krim di kawasan Bugis Street sejak akhir 1980an. Semula ada empat pedagang sepertinya di sana. Dua meninggal, sisanya sudah pensiun karena tua. Lim Wee mengaku mengenal semua pedagang es krim di Singapura. Hebat! Salah satunya adalah koleganya yang berjualan di kawasan Orchard Road.

Lim Wee hanyalah satu dari belasan pedagang es krim di sejumlah destinasi wisata di Singapura. Usia mereka hampir sama : sama-sama tua, di atas enampuluh tahun. Mereka merupakan salah satu pedagang kaki lima paling awal di kawasan itu. Jumlahnya kian menyusut dan aturan memang tak membolehkan ada penambahan jumlah pedagang.

Biarpun hanya pedagang kaki lima, pemerintah Singapura menetapkan regulasi cukup ketat pada Lim Wee dan kawan-kawan. Mereka harus memenuhi standar kesehatan makanan (Food Hygiene Standard) dan lingkungan (National Environmental Agency). Saban bulan, PKL macam Lim Wee harus membayar 109 dolar Singapura per bulan atau setara Rp 1 juta kepada pemerintah dan menempati space yang sudah disediakan.

Uang iuran itu akan digunakan untuk banyak hal demi kebaikan para PKL sendiri. Mulai dari monitoring standar kesehatan, layanan hingga pelatihan. Lim Wee diberi pelatihan bagaimana menyajikan makanan yang bersih, membungkus makanan, bahkan sampai cara mencuci tangan. Satu aturan, misalnya, PKL pedagang makanan dilarang menyentuh bahan makanan setelah ia menyentuh uang.

Ada denda yang diterapkan bagi PKL yang tak mematuhi standar yang ditetapkan. Menggunakan bahan kedaluarsa misalnya, dendanya mencapai 400 dolar. Mencuci tidak menggunakan air bersih dendanya 200 dolar. Pemerintah tidak main-main dengan aturan yang mereka tetapkan. Tujuannya untuk melindungi konsumen dan PKL itu sendiri.

Denda mahal bukan lagi hantu bagi warga Singapura. Sebab mereka sudah terbiasa tertib dan disiplin. Seperti Lim Wee ini. Dan ia tampak bahagia berjualan es krim di usia tuanya tanpa takut dikejar-kejar satuan polisi kota atau semacamnya. Lim Wee, sampai kapan Anda akan terus berjualan? “Sampai tak kuat memotong es krim,” ujarnya dengan mata berbinar sembari mengacungkan pisau stainlessnya, lantas tertawa. Kapan ya, PKL Indonesia bisa sebahagia Pak Lim? (*)

 

 

 

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close