Milescoop
Trending

Rahasia Mursidi! Dulu Jual Rumah Lunasi Utang Kini Raup Rp 83 Juta tiap Panen Padi

MILESIA.ID – Sobat milenial, selalu ada terang setelah gelap, demikian dengan nasib seseorang, kemarin, sekarang dan esok siapa yang tahu.

Semua tergantung dari tekad masing-masing orang untuk keluar dari kesulitannya.

Pelajaran berharga di dapat Milesia.id di tepi saluran irigasi sebuah pematang sawah area Kabubaten Boyolali.

Sore itu sekitar pukul 15.30 WIB, di bawah pohon talok pinggir Dusun Pete Desa Sudimoro Kecamatan Teras, Kabupaten Boyolali ada sosok yang menginspirasi.

Nasib baik bukan tentang harta karun yang didapatkan seketika seusai mimpi malam hari lalu pagi harinya kita menggali tanah dan menemukan emas maupun permata.

Namun tentang upaya, cara, celah, tetesan keringat, semangat, kerja keras dan tak kenal menyerah.

Adalah Mursidi (42), saat ditemui Milesia.id ia duduk menikmati hamparan sawah dan sepoi angin yang membelai peluhnya.

Tanaman di depannya hijau terhampar dengan bulir padi yang sudah memberi tanda-tanda akan hasilnya.

Belum benar-benar menguning memang, tapi rundukannya telah sedikit menunjukkan seberapa besar nilai panen padi itu nantinya.

Kepada Milesia.id Mursidi tak menyangka ia akan berada di kondisi saat ini.

Lebih baik, sangat lebih baik dibanding sebelumnya.

Enam tahun lampau adalah cerita kelam yang pahit dan getir yang ia rasakan.

Mungkin awalnya biasa, ia kehilangan pekerjaan sebagai buruh pabrik tapi ternyata beri efek berantai yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Mursidi pun kemudian coba peruntungan baru dengan wirausaha tapi akhirnya gagal juga.

Satu-satunya harta tersisa, sebuah rumah warisan orangtua pun harus terjual untuk melunasi utang-utangnya.

Betapa pahit saat itu, ia memiliki dua anak perempuan.

Satu balita dan satu menginjak usia sekolah dasar.

Sementara sang istri yang sebelumnya hanya mengandalkan penghasilan suami sebagai buruh pabrik, saat itu harus berjibaku menawarkan jasa mencuci.

Tepiskan rasa malu, sang istri bahkan menawarkan jasa mencuci dari pintu ke pintu.

Di tiap pintu tetangga ia bertanya adakah baju yang bisa dicuci?

Ya demi sesuap nasi untuk perut yang harus terus diisi.

Beberapa kali Mursidi melamar kerja sebagai buruh bangunan tapi jarang ada yang mau menerima.

Pria ini dianggap tidak bertenaga dan tak pula berketrampilan di bidangnya.

“Jangankan berutang ke tetangga, pinjam uang ke saudara pun tak di percaya. Dua tahun saya dalam keadaan seperti itu,” kata Mursidi.

Mursidi tak menyerah.

Ia kemudian mencoba hal baru yang selama ini belum pernah ia lakukan.

Kenapa tak bertani saja?

Bukankah ini warisan leluhur, tanah subur bumi pertiwi akan memberikan penghidupan yang layak bagi mereka yang mau berupaya.

Kesempatan itu datang, ia dipercaya untuk mengerjakan sawah milik pamannya seluas 1.500 meter persegi.

“Ini jadi sarana belajar dan menguji diri demi anak istri,” imbuhnya.

Panenanan pertama, Mursidi tak akan pernah bisa ia lupakan.

Ia mendapat hasil 1.125 kg, artinya dalam tiap hektar ia mampu menghasilkan 7,5 ton padi.

Hasil panen tersebut lalu digunakannya untuk stok makanan dan sebagian untuk biaya produksi berikutnya.

Tahun berikutnya, Mursidi sudah mampu membayar penuh sewa lahan pamannya dan membeli tahunan 1 lahan yang lain.

Demikian selanjutnya terus berproses hingga sekarang sudah 2 ha lahan mampu dia kerjakan.
Mursidi kini piawai bertanam padi bahkan kini hitungannya rata-rata tiap hektar ia mampu menghasilkan penenan 9 ton.

Dari penghidupannya di bidang pertanian, kini Mursidi sudah mampu berpenghasilan 7 juta perbulan dengan penguasaan 2 ha lahan sewa yang dikerjakan sendiri.

“Mengerjakan sawah 4.000 meter sama dua hektar itu, tenaganya gak jauh beda,” jelas Mursidi.

Menurut hitungan kasarnya, 18 ton gabah dia dapat perpanennya, dengan harga umum rata rata sekarang Rp 4.500,- pendapatan kotor yang dihasilkan adalah 83 juta rupiah diraup tiap sekali panen.

Sedangkan sawah di Desa Sudimoro dikelola dengan saluran irigasi teknis, mampu panen tiga kali sepanjang tahun.

Panen pertama digunakan untuk bayar sewa satu tahun, panen kedua digunakan sebagai biaya produksi satu tahun, dan panen ketiga untuk pendapatannya dalam satu tahun.

Sementara itu Marsono paman Mursidi kepada Milesia.id mengaku ada hal yang unik terjadi.
Mursidi dulu adalah muridnya dalam hal bertani itu terjadi saat Mursidi untuk pertama mengerjakan satu-satunya sawah, yaitu miliknya.

Nah sekarang justru sebaliknya, Marsono justru yang banyak belajar pada Mursidi.

Cara kreatif Mursidi diikuti Marsono, segala kesulitan di lahan pertanian ia tanyakan ke Mursidi.

Bahkan menurut Marsono, Mursidi adalah salah satu rujukan petani di Dusun Pete bila ada kesulitan di bidang pertanian banyak petani yang bertanya pada Mursidi.

“Kemarin lahan bengkok pak lurah yang dikerjakannya, digunakan sebagai perayaan panen raya desa. Diundang PPL ketua ketua kelompok di seluruh desa dan berbagai tokoh serta seluruh perangkat desa, dan hasil riil 9,2 ton/ha di dapatkannya,” jelas Marsono menjelaskan kepiawaian keponakannya.

MILESIA.ID/AHMAD DZUHA – Mursidi di sawah sewanya. Tampak padi mulai menguning, sebentar lagi akan panen.

RAHASIA MURSIDI

Milesia.id penasaran dengan cara Mursidi bisa menghasilkan panenan 9,2 ton per hektar.
Ditanya tentang ini, Mursidi menjelaskan blak-blakkan.

Menurutnya selama ini tak ada perlakuan khusus yang ia lakukan tapi ia tidak melakukan satu hal yang sering dilakukan banyak orang.

“Kuncinya giat berinovasi dan jangan pernah dipanen model tebas. Model tebas tidak akan pernah memberi tahu berapa kg hasil panen kita,” tuturnya.

Panen model tebas yakni petani menjual ke tengkulak dalam kondisi ‘buah’ belum dipetik.
Tengkulak tersebut nantinya akan memanen setelah padi siap dipetik.

Mursidi menilai prinsip ini merupakan hal yang sangat pernting lantaran petani tidak akan pernah tahu kekurangannya kalau tidak tahu hasilnya.

“Satu hal yang jarang dimiliki oleh petani adalah mengevaluasi diri sehingga kita tidak mau dan tidak mampu berinovasi,” tambah Mursidi.

Sementara terkait inovasi dalam bertanam padi, inovasi yang dilakukan Mursidi tak jauh beda dengan petani lainnya.

Antara lain pemupukan berimbang dengan 15 kg urea, 25 kg NPK, 5 kg SP, 5 kg KCL untuk lahan 1 petak (1500 – 2000 m).

Beberapa pembeda adalah dengan penambahan MOL (Mikro Organisme Lokal), Hormon, PGPR dan POC (Pupuk Organik Cair) yang kesemunyaa rata-rata bahan merupakan bikinan sendiri.

“Saya nanam padi di polibag dan untuk mencoba ramuan-ramuan itu sehingga tak ada risiko mati pada area tanam saya,” jelas Mursidi.

Mursidi mengaku kalau informasi terkait hal ini ia dapatkan dari berbagai sumber, hasil diskusi dengan kelompok taninya juga referensi lain dari buku atau media.

Kelompok tani Mursidi adalah kelompok mandiri, yang terdiri dari beberapa petani yang memiliki karakter bersama dan tergabung dalam Koperasi Sumber Lestari Desa Sudimoro.

Kelompok ini pula sekarang memiliki penggilingan padi yang sudah mengemban merk ‘Bumi Jawi’.

Dan produk Bumi Jawi sudah merambah ke berbagai kota di Indonesia diantaranya Kota Solo, Semarang, Yogyakarta dan berbagai kota lainnya.

Jatuh dan terpuruk seharusnya adalah hal yang biasa, pada dasarnya tiap orang mungkin pernah mengalaminya.

Hal yang luar biasa adalah cara untuk bangkit dari keterpurukan, terus berjuang dan tak mengenal kata menyerah dan petani Mursidi sudah membuktikannya. Bagaimana denganmu milenial muda? (Milesia.id/ Penulis: Ahmad Dzuha/ Editor: Rimawan Prasetiyo)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close