Milebisnis

International Jewellery Fair, Trend Tak Lekang Batu Mulia Indonesia

Penggemar perhiasan seperti dimanjakan pada empat hari gelaran International Jewellery Fair, di Jakarta Convention Center (JCC), yang berakhir ahad (22/4) kemarin. Milesia.id yang menyusuri tak kurang 100 stand bisnis dari dalam dan luar negeri, mendapati semua stand selalu padat pengunjung. Membuktikan bahwa bisnis perhiasan nyaris tak mengenal krisis dan selalu laris manis.

Dihelat di Assembly Hall, JCC, kawasan Jalan Jend. Gatot Subroto Jakarta, 19 – 22 April 2018, seratus peserta yang mayoritas pebisnis perhiasan, ambil bagian. Perinciannya, tercatat 30 peserta dalam negeri, 19 peserta luar negeri, dan 51 perajin skala industri kecil dan menengah binaan sejumlah instansi pemerintah.

International Jewellery Fair 2018 yang didukung Kementerian Perindustrian RI, Kementerian Perdagangan RI, serta Asosiasi Pengusaha Emas & Permata Indonesia (APEPI), sekaligus menjadi ajang bertemunya para pebisnis perhiasan, perajin, distributor, mekanika perhiasan, hingga desainer perhiasan.

Prio P/Milesia.id

Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM), Kemenperin,  Gati Wibawaningsih, dalam rilisnya menyatakan, industri perhiasan tumbuh pesat, ditandai dengan meningkatnya nilai ekspor logam mulia, batu permata dan perhiasan. Tahun 2017, nilai ekspor perhiasan nasional mencapai USD2,6 miliar.

Di ajang apmeran perhiasan terbesar yang diadakan untuk ke-11 kalinya ini, konsumen bisa mendapatkan produk-produk perhiasan berkualitas dengan harga bersaing. Pengunjung juga dimanjakan dengan trend perhiasan hasil olahan teknologi dan desain teranyar.

Trend Emas dan Pearl dalam Nuansa Etnik

Prio P/Milesia.id

Diakui, jual beli perhiasan emas tak luput dari trend pemenuhan kebutuhan masyarakat akan emas dan fungsi subtitusinya. Jelang ramadhan hingga Lebaran berbeda gestur konsumsinya dibandingkan saat tahun ajaran baru, di mana pemilik perhiasan butuh dana lebih. Perhiasan yang masih dianggap sebagai tabungan, acapkali dilepas ke pasar.

Berbeda dengan trend di kalangan konsumen menengah ke atas, yang adalah pengunjung mayoritas di ajang International Jewellery Fair, mereka membeli perhiasan lebih karena gaya hidup. “Hampir tidak pernah turun permintaan dari konsumen menengah ke atas,” papar Jen, peserta pameran dari Lombok Tengah, NTB, kepada Milesia.id yang mengunjungi stand nya, akhir pekan lalu.

Di bawah bendera Jen’s Kreatif, perempuan paruh baya itu menawarkan olahan mutiara khas Lombok yang telah terkenal hingga mancanegara. “Kami mendesain rupa-rupa perhiasan dengan basis bahan mutiara asli Lombok. Kami padu dengan frame emas dengan sentuhan ukiran bernuansa etinik,” imbuh Jen. Dalam sehari, Jen menerima tak kurang dari 10 transaksi.

Ditemui Milesia.id dalam ajang yang sama, perajin dan produsen exotic gemstone asal Aceh Ira Dian Maharani, juga sangat optimis dengan produk-produk kerajinan berbahan baku batu mulia khas Serambi Mekah. “Kami mengolah batu jade, opal, hingga saphir, menjadi produk-produk perhiasan bermutu tinggi,” imbuh Ira.

Untuk wilayah Aceh, kantornya di kawasan Jl. Aman Dimot, Pasar Aceh, Banda Aceh, mengendalikan pesanan untuk kantor Jakarta maupun luar negeri. Tercatat, jaringan bisnisnya menjalar hingga Suriname, Malaysia, Amerika Serikat, Srilanka serta Belanda. “Batu mulia khas Indonesia masih jadi buruan di luar negeri. Kami meningkatkan nilai jualnya melalui sentuhan desain dan kemasannya,” imbuh Ira.”Trend batu mulia nyaris tak pernah surut di pasar luar negeri”.

Trend batu mulia yang tak surut di kalangan penggemar kalangan menengah ke atas diakui Ir. Sujatmiko, Dipl.Ing, geologist yang juga gemmologist. “Trend batu mulia cenderung stabil. Desain-desain baru yang terus berkembang, juga padu-padan dengan fashion menjadikan batu mulia selalu dicari,” papar Sujatmiko kepada Milesia.id. Disebut Sujatmiko, bentang alam dan peta geologis di Indonesia menyimpan deposit batu mulia yang luar biasa kaya dan indah. Ini perlu dieksplorasi untuk meningkatkan nilai ekonomi. Tentu, dengan tetap mempertimbangkan kelestarian alam. (Milesia.id/ Penulis: Prio Penangsang/ Editor: Rimawan Prasetiyo)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close