Milebisnis
Trending

Briket Arang Kelapa, Bisnis ‘Dunia Hitam’ Pengeruk Dollar dan Riyal

 

Tempurung atau batok kelapa seringkali menjadi limbah tak berguna. Dengan sedikit kreativitas, ia bisa disulap jadi briket arang kelapa (coconut shell briquette charcoal) kualitas ekspor. Peluang besar menanti di pasar Eropa, Asia, hingga Timur Tengah.

MILESIA.ID/PRIO PENANGSANG – Para pekerja sedang memproduksi briket kelapa kualitas ekspor.

Bunyi mesin menderu manakala lusinan pekerja asyik memotong adonan ‘pasta’ berwarna hitam yang keluar dari cetakan mekanik dalam beragam bentuk dan ukuran. Milesia.id yang mengunjungi pabrik pengolaha briket arang kelapa seluas seribu meter persegi itu, dibuat takjub.

Betapa tidak, puluhan ton briket arang kelapa itu bermula dari tempurung kelapa yang seringkali dianggap tidak berguna. Ya, salah satu yang sukses memanfaatkan peluang itu adalah CV Kelapa Nusantara (KN) dengan kapasitas olah pabrik briket arang kelapa mencapai 70 ton per bulan.

“Kapasitas kami mencapai 70 ton tapi baru bisa dipenuhi 50 ton akibat terbatasnya suplai bahan baku,” papar Joko Nahnuri, manajer produksi Kelapa Nusantara yang ditemui Milesia.id, pekan lalu.

Kelapa Nusantara mendapatkan pasokan bahan baku arang kelapa dari sejumlah daerah di tanah air. Diantaranya Sulawesi, Riau, dan Jambi. “Pasokan lokal dari kawasan Kalasan jumlahnya terbatas, baru dua kuintal per pekan,” imbuh Joko.

MILESIA.ID/PRIO PENANGSANG – Ini macam-macam bentuk briket dari kubus, hexaginal hingga silinder.

Kelapan Nusantara mampu mengekspor briket arang kelapa setiap 2 pekan. Rata-rata 27 ton dengan segmen market menjangkau Eropa dan Timur Tengah. Tercatat, Jerman dan Dubai adalah dua negara rutin memesan briket arang produksi Kelapa Nusantara. Itu belum termasuk untuk menyuplai kebutuhan pasar lokal.

Milesia.id mendapati setidaknya ada tiga format jenis briket yang diproduksi Kelapa Nusantara. Kubus (cube), hexagonal, dan silinder/finger. “Bentuk briket menyesuaikan pesanan konsumen. Misalnya, bentuk kubus dengan ukuran 2,5 x 2,5 cm atau hexagonal 2 x 3,5 cm. Prinsipnya, apapun bentuk briket yang diinginkan konsumen kami siap mendesain dan memproduksinya,” imbuh Joko.

Pastinya, masing-masing briket sudah melewati beragam standar uji mutu. Diantaranya memiliki kadar abu (ash content) yang rendah di kisaran tiga persen, dan warna abu (ash color) putih.

Semakin rendah kadar abu, semakin bagus mutu briket. Warna abu yang putih bersih, menjadikan tampilan briket menarik saat sudah naik ke tungku pembakaran. Menjadikan acara pesta barbeque dan ‘shisha’ jadi kian mantab. Selain barbeque dan shisha, kalangan perhotelan meminati briket arang kelapa untuk mengolah aneka menu kuliner mereka.

Dengan harga briket arang kemasan mencapai Rp 16 ribu/kg dan briket curah Rp 13 ribu/kg, Kelapa Nusantara meraup setidaknya satu miliar per bulan.

MILESIA.ID/PRIO PENANGSANG – Direktur Operasional Kelapa Nusantara, Heppy Andriyanto saat memeriksa kualitas briket yang diproduksi.

Mengunjungi pabriknya di kawasan Srimartani, Piyungan, Bantul, Yogyakarta, Milesia.id mendapati sejumlah karyawan tak henti berkutat dengan pekerjaan masing-masing. “Kami mempekerjakan 24 karyawan dengan upah layak yang terus ditingkatkan sesuai performa bisnis kami,” papar Direktur Operasional Kelapa Nusantara, Heppy Andriyanto kepada Milesia.id.

“Disamping ramah lingkungan dari sisi bahan baku serta minim residu, briket arang kelapa kami menghasilkan panas tinggi yang stabil sehingga proses pemanasan lebih efisien. Kelapa Nusantara terus berupaya mempertahankan mutu demi menjaga loyalitas konsumen kami di Eropa dan Timur Tengah ,” pungkas Heppy. (Milesia.id/ Penulis: Prio Penangsang/ Editor: Rimawan Prasetiyo)

Tags

Related Articles

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close