Milespop
Trending

Kisah Wanita yang Rela ‘Menentang’ Bahaya demi Bangsa, Selamat Hari Kartini

MILESIA.ID – Merayakan Hari Kartini identik dengan pakaian adat, terutama kebaya bagi para wanita dengan sanggulnya yang khas.

Ada juga lomba memasak, bikin tumpeng serta berbagai perlombaan yang identik dengan anggapan hal-hal itu sebagai tugas wanita di zaman dulu.

Perlombaan semacam ini seolah berseberangan dengan perjuangan RA Kartini demi kesetaraan peranan wanita.

Mungkin saja perlombaan-perlombaan semacam itu untuk menjaga tradisi bangsa terutama dalam berbusana.

Sementara di zaman modern ini hampir semua pekerjaan yang bisa dikerjakan seorang lelaki sudah bisa dikerjakan oleh wanita.

Bahkan sobat milenial, tak hanya pekerjaan yang identik dengan kaum adam yang bisa dilakukan wanita, ada juga pekerjaan yang berhadapan langsung dengan bahaya.

Nyawa jadi taruhan!

Namun para wanita-wanita tangguh ini tetap maju, tak gentar dalam melaksanakan kewajibannya.
Kali ini Milesia.id akan menghadirkan sekelumit kisah wanita-wanita tangguh ini bertepatan dengan peringatan Hari Kartini, Sabtu (21/4/2018).

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan beberapa menit lalu melalui akun media sosial merilis sebuah video pendek tentang sosok wanita tangguh yang pekerjaannya berhadapan langsung dengan bahaya.

Dalam postingan tersebut Menteri LHK Siti Nurbaya, mengajak para wanita untuk memelihara, menata dan mengajarkan untuk menciptakan lingkungan yang nyaman demi kelestarian dan kesejahteraan Bangsa Indonesia.

Mewujudkan hal ini tentu butuh perjuangan, Kementerian LHK mencontohkan dua ‘Kartini’ yang bekerja berhadapan langsung dengan bahaya.

KEMENTERIAN LHK – Theresia pilot wanita dari Kementerian LHK berani bekerja di atas ketinggian demi kelestarian lingkungan hidup.

Sosok pertama adalah Theresia, ia memiliki tugas sebagai Microlight Trike Pilot.

Menerbangkan armada terbang kecil yang fungsinya memantau lewat udara terkait kondisi sebuah lingkungan atau kawasan hutan.

Tugas Theresia memantau dari udara misalnya ada kerusakan yang terjadi merekam dan bisa melaporkannya.

Bahkan saat terjadi kebakaran hutan ia akan terbang dan berupaya sebisa mungkin memantau dari udara sebaran api di kawasan hutan tersebut sehingga bisa ditangani oleh Manggala Agni yakni sebutan bagi petugas lapangan yang memadamkan api.

Peran Theresia berhadapan langsung dengan bahaya, ketinggiaa, kemungkinan kerusakan pesawat, angin yang kencang, kabut serta asap.

Tugas Theresia biasanya dikerjakan oleh kaum pria tapi kaum hawa pun bisa melakukannya dengan baik.

Pada tayangan video tersebut tampak Theresia terbang menggunakan microlight trike, ia begitu mahir berada di ketinggian dan memantau kawasan lingkungan hidup di bawahnya.

Theresia menjadi salah satu contoh seorang Kartini yang tangguh.

Selain Theresia satu lagi wanita tangguh yang dikenalkan adalah Lestika Sari, ia seorang Manggala Agni atau petugas lapangan yang berhadapan langsung dengan api.

Tugasnya adalah memadamkan api.

Pada video terlihat Lestika berani berjibaku bersama rekan-rekannya untuk memadamkan api.

Penelusuran Milesia.id, Manggala Agni dibentuk pada tahun 2003 di bawah Departemen Kehutanan.
Tugasnya yakni mencegah, memadamkan api serta menangani pasca-kebakaran hutan.

KEMENTERIAN LHK – Manggala Agni wanita berjibaku melawan api yang membakar hutan. tepikan keselamatan diri demi kelangsungan hidup orang banyak.

Terbentuknya pasukan pemadam api ini berawal dari kebakaran hutan dan polusi asap pada tahun 1997-1998.

Kebakaran tersebut bahkan tak hanya terjadi di hutan tapi juga di lahan terutama kebun.

Ketika itu Direktorat Jenderal Perkebunan yang sebelumnya berada di bawah Departemen Pertanian akhirnya digabung dan menjadi Departemen Kehutanan dan Perkebunan.

Selanjutnya pada tahun 1999 dibentuklah Direktorat Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Kebun yang selanjutnya pada tahun 2004 berganti dengan Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan.

Pada saat itu brigade pengendalian kebakaran hutan masih tersebar dan tak berada di satu garis komando yang jelas dari tingkat pusat hingga di lapangan sehingga pengendalian kebakaran tak berjalan sistematis dan optimal.

Lalu kemudian pada tahun 2003 dibentuklah Manggala Agni untuk menangani kebakaran secara terencana dan terpadu di bawah komando Departemen Kehutanan.

Tugas dan tanggung jawab yang berat serta potensi kecelakaan yang membahayakan nyawa tapi wanita-wanita ini tetap bertahan.

Semata-mata bukan untuk kepentingannya sendiri, melainkan sumbangsihnya untuk kehidupan bangsa.

Hebat Kartini-kartini masa kini. (Milesia.id/Rimawan Prasetiyo)

Tags

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close