FoodsMilesfood
Trending

Delapan Kuliner ‘Ndeso’ Jepara, Namanya Aneh-aneh tapi Enaknya Gak Ketulungan

MILESIA.ID – Sobat milenial mengulik tentang Jepara tak lepas dari sosok RA Kartini yang termasyur.
Kota kelahiran Raden Ajeng Kartini (saat ini muncul wacana perubahan menjadi Raden Ayu lantaran status Kartini semasa hidup telah menikah) yang menjadi pahlawan bagi kaumnya.

Pejuang emansipasi wanita hingga saat ini wanita bisa berkiprah di segala bidang.

Kota ini juga dikenal dengan ukiran kayunya yang indah dan jadi patokan bagi jenis ukiran meubel dari wilayah lainnya.

Namun itu sebenarnya hanya bagian kecil saja. Masih banyak hal-hal yang mungkin belum Anda ketahui tentang Jepara.

Jepara memiliki panorama pantai yang menawan.

Wilayah ini terletak di penghujung tengah utara Pulau Jawa sangat eksotik nanindah.

Sejauh mata memandang, terbentang garis cakrawala yang biru seakan menyatukan antara langit dan lautan yang luas.

Eksotisme panorama Jepara tak lepas dari desa-desa di wilayah pantai.

Coba masuk di Desa Ujung Batu Jepara, desa ini letaknya paling pinggir dekat dengan garis pantai.
Desa ini juga memiliki tempat pelelangan ikan (TPI).

Masuk desa ini embusan angin pantai sangat terasa bahkan bau khas ikan laut menyengat hidung, terutama gereh atau ‘gesek’ ikan yang dikeringkan dan diawetkan dengan garam.

Ikan gereh yang telah digoreng, dijamin bakal bikin nasi cepat habis, apalagi nasinya panas makan pasti terasa nikmat sekali.

Soal kuliner jangan diragukan, di desa ini lidah kita bakal dimanjakan dengan menu-menu sederhana atau dikenal dengan sebutan masakan ‘ndeso’ dan harganya murah banget.

Kali ini Milesia.id sambangi sebuah warung kecil milik Nyi Warti, yang beralamat di Desa Ujungbatu RT 01, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara.masakan-masakannya lezat didominasi nonkolesterol serta khas Jepara, Sabtu (21/4/2018).

Berikut delapan masakan ‘ndeso’ khas Jepara yang bikin lidah Anda enggan henti bergoyang.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Horok-horok plus tempe.

1. HOROK-HOROK

Namanya unik atau mungkin aneh bagi orang yang pertama kali mendengarnya.

Horok-horok ini makanan khas Jepara berasal dari pati pohon aren, substitusi nasi/beras, yang tentunya bagus untuk orang-orang yang sedang berjuang untuk menurunkan berat badan.

Selain itu makanan ini sangat ramah bagi pengidap diabetes.

Makan horok-horok untuk pertama kali mungkin akan bikin Anda bingung.

Rasanya kok ‘anyep’ hambar atau tak berasa dengan tekstur sedikit kenyal.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Horok-horok,tampak dibungkus dengan daun jati.

Meski demikian makan horok-horok akan membuat Anda merasakan sensasi nikmat aroma khas daun jati yang digunakan sebagai pembungkus makanan ini.

Cara buatnya sangat sederhana cukup dikukus saja.

Horok-horok bisa dimakan langsung tapi lebih lezat ketika dipadu lauk pauk lainnya.

2. SAYUR BENING TEMPE GEMBUS

Sobat milenial, tempe gembus disebut-sebut sebagai makanan yang tidak bergizi karena bahan pembuatnya hanya ampas tahu saja.

Namun jangan salah, tempe gembus dikenal sangat lezat apalagi bila diramu dengan bahan yang tepat.

Satu di antaranya dimasak menjadi sayur bening.

Masaknya juga sangat mudah, tidak membutuhkan bumbu yang njlimet.

Terasa segar di mulut jika dimakan dengan horok-jorok apalagi bila dicampur petet ( petai cina) akan menambah citarasa tersendiri.

Kuah tempe gembus nansegar berasa asin manis dengan perpaduan pas cukup bawang merah bawang putih, cabai rawit, tomat, gula dan garam.

Masakannya sangat pas dinikmati kala siang hari dengan cuaca panas khas Jepara.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Sate kikil yang enaknya bikin ketagihan.

3. SATE KIKIL

Sate menjadi makanan yang populer di Indonesia dan banyak bahan yang bisa dijadikan sate.
Satu di antaranya yakni kikil (kulit) sapi.

Ujungbatu yang dikenal pula dengan keberadaan Stadion Gelora Bumi Kartini, kikil disulap menjadi sate yang lezatnya membuat lidah bergoyang.

Harga per tusuk hanya seribu rupiah di warung Nyi Warti.

Sate kikil sekali gigit bikin nagih, kenyal-kenyal di mulut dan bumbu rempahnya terasa nikmat di lidah.

Makan satu tusuk berasa kurang dan ingin nambah lagi, lagi dan lagi.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Urap Latoh dengan daun bernama latoh, rumput laut.

4. URAP LATOH

Kudapan yang satu ini berbeda dengan urap di daerah lain.

Pembedanya adalah bumbunya terdiri dari parutan bawang merah, trasi dan laos yang dicampur dengan kelapa parut.

Bumbu urap disajikan dengan aneka sayur rebus, namun urap Jepara lazim ditambah sayur dari laut yaitu ‘latoh’ atau rumput laut.

Bumbu-bumbu tadi bikin urap Jepara rasanya segar dan nikmat.

Cocok dimakan bersama nasi atau horok-horok.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Pindang Srani yang lezat.

5. PINDANG SRANI

Pindang satu ini sangat cocok untuk pecinta sea food.

Masakan nonkolesterol kuah bening seger pedas manis cocok di lidah apalagi disantap siang hari dijamin bikin keringat segar bercucuran.

Paduan bumbu sederhana menjadikan kuah berwarna kuning bening dan ikan laut semisal ikan gembung, bernilai gizi tinggi.

Mengolah kuliner seafood ala pindang srani tidak perlu minyak cukup masukkan bumbu yang sudah dihaluskan ke panci berisi air mendidih yang sudah berisi ikan laut.

Aroma rempah harum dipadu ikan laut pindang membuat ketagihan.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Blenyik kukus yang diberi tamabahan bawang merah, bawang putih dan cabai rawit.

6. BLENYIK

Kuliner ini berbahan teri segar yang dibentuk bulatan kemudian dikeringkan agar awet disimpan.
Blenyik cocok untuk digoreng atau dikukus.

Disantap bareng nasi hangat plus sambal trasi campur jeruk pecel, ah begitu lezatnya.

MILESIA.ID/ANNY WIDI ASTUTI – Kimo.

7. KIMO

Sesuai namanya masakan ini berasal dari ikan kimo.

Paling cocok dibikin oseng-oseng pedas.

Rasanya yang khas membuat ikan ini laris dicari penggemarnya.

Kebanyakan ikan ini ditangkap di area laut Kepulauan Karimunjawa.

8. PETIS

Petis merupakan pelengkap makanan, kental dan memiliki rasa khas.

Petis dibuat dari air rebusan beraneka ragam ikan yang dicampur dengan gula jawa serta bumbu-bumbu lainnya.

Warnanya hitam nankental serta rasanya lezat. (Milesia.id/ Penulis: Anny Widi Astuti/ Editor: Rimawan Prasetiyo)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close