BusinessMilescoop
Trending

Rp 10 Juta Per Bulan, Ini Kisah Suryadi yang Tiap Hari Panjat 40 Batang Kelapa

MILESIA.ID – Sobat milenial, apa yang dibayangkan saat melihat sebuah produk pangan, terpikirkah proses di balik pembuatan produk tersebut?

Ada lho sebuah produk yang membutuhkan perjuangan hingga produk tersebut bisa dimanfaatkan.

Kali ini Milesia.id hadirkan kisah petani kelapa yang memproduksi gula kelapa organik.

Gula ini sehat, bergizi dan memiliki rasa yang khas, tapi untuk membuatnya perlu perjuangan yang tak setiap orang mampu.

Simak kisah selengkapnya.

Suryadi, pria paruh baya kelahiran 41 tahun yang lalu, di Tanjungheran, Pogung, Tanggamus, Lampung Selatan ini, melakoni pekerjaan menderes kelapa sejak tahun 2012.

Hingga kini, Suryadi masih setia ‘memeluk’ dan memegang erat batang pohon kelapa, menapaki tatalannya, menderes niranya lalu mengolahnya menjadi gula kelapa cetak.

“Anak bungsu saya ingin jadi Dokter. Kewajiban saya adalah membiayai sekolahnya. Agar nasib anak saya lebih baik daripada orangtuanya,” kata Suryadi mengawali kisahnya.

Saat Milesia.id menyambanginya di kebun tempatnya bekerja, matanya tampak berbinar, bibirnya menebar senyum, daya hidupnya menyala-nyala.

Meski terlihat di pelipisnya menempel koyo dan badannya menguar bau balsem sisa kerokan tadi pagi, tapi tak membuatnya bergeming sedikitpun.

Ia memilih untuk tetap bekerja, menderes nira kelapa.

Suryadi mengawali kiprahnya menderes kelapa di Glenmore, Banyuwangi.

Saat itu, ia baru saja menjejakkan kakinya di Bumi Blambangan, kota yang dulu Ia kenal dari TV saat rame isu santet dan ninja.

Terkait keberangkatannya ke Banyuwangi, ceritanya dulu Ia diajak tetangganya yang sudah berhasil menjadi Penderes Kelapa.

“Kenyang merantau kemana-mana, Bekasi, Tangerang, Cilegon, Jakarta. Kerja serabutan, nasib terombang-ambing, penghasilan pas-pasan. Akhirnya ikut tetangga yang sudah lebih dulu menderes kelapa di Banyuwangi,” papar Suryadi.

Istri dan 3 anaknya pun diboyong ke Banyuwangi.

Ia masih ingat, saat itu Suryadi bersama keluarga naik bus ALS, berharap nasibnya berubah menjadi lebih baik.

Kini, setiap hari, Suryadi 2 kali naik-turun 40 pohon kelapa setinggi 10 meteran.

Pagi, pukul 05.00 WIB sampai dengan 11.00 WIB, Suryadi menurunkan nira kelapa.

Sore, pukul 14.00 WIB sampai dengan 17.00 WIB, Suryadi mengiris manggar, berharap nira mengucur dan memenuhi omplongnya sampai esok hari.

Bila dihitung, setiap hari Suryadi naik-turun pohon kelapa sepanjang 1,6 Km, sebulan 48 Km, setahun 576 Km.

Dalam 2 tahun Suryadi memanjat kelapa sepanjang 1.152 Km, setara jarak mudik Banyuwangi – Lampung Selatan.

PANJAT 40 BATANG POHON KELAPA

Suryadi tak pernah absen menderes kelapa.

Panas dan hujan tak menghalanginya untuk bekerja.

Tiap hari sebanyak 40 batang pohon kelapa ia panjat.

“Kalau hujan paling hanya licin saja pegangannya. Tatalannya kan tetap ndak licin.” kata Suryadi.

“Kalau ada petir atau sakit parah baru libur kerja,” imbuhnya.

Saat ditanya jamunya apa agar kuat memanjat pohon kelapa, Suryadi menjawab, “Minum vitamin sesuai anjuran Dokter. Belinya di apotik. Harganya Rp 11.000,- dapat 30 butir.”

Suryadi dibantu istrinya dalam memasak nira.

Tiap jam 9 pagi, nira yang sudah dikumpulkan diangkut oleh istrinya dari kebun ke dapur produksi.

Setelah itu disaring dan dituang dalam wajan besar dan dimasak di atas tungku dengan kayu bakar.

Proses memasaknya masih tradisional. Hanya ada tambahan blower bertenaga listrik untuk membantu pembakaran kayu agar lebih irit.

Bila nira mendidih dan berbuih, diberi parutan kelapa atau santan untuk menekan buih yang terbentuk agar tidak tumpah dari wajan.

Jika sudah mengkristal (membeku saat dimasukkan ke dalam air) wajan diturunkan dari tungku.

Proses pemasakan nira membutuhkan waktu 5-6 jam.

PROSES PENGOLAHAN NIRA KELAPA

Setelah diturunkan dari tungku, nira yang telah mengkristal dituang pada cetakan dari mangkuk plastik.

30 menit kemudian, gula kelapa dilepas dari cetakan dan dikeringanginkan selama kurang lebih 5-6 jam, lalu dikemas dengan plastik sheet jenis PE setebal 0,08 mm dan dimasukkan kedalam karung.

Setiap hari, Suryadi bisa memperoleh nira sebanyak 150 liter.

Bila diolah, menjadi 30 Kg Gula Kelapa Organik siap konsumsi.

Saat ini harga jual ditingkatan pengrajin adalah Rp 12.100 per Kg. Jadi, pendapatan kotornya setiap hari Rp 363.000,-. Sebulan rata-rata Rp 10.000.000,-.

“Alhamdulillah, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan biaya sekolah anak. Sisanya ditabung untuk jaga-jaga kalau ada kebutuhan mendadak,” jelas Suryadi semringah.

Selama ini, Gula Kelapa produksi Suryadi dibeli oleh Indofood.

Gula Kelapa organiknya bebas dari Natrium Metabisulfit. Cocok dikonsumsi, karena Indeks Glikemiknya ( tingkatan pangan menurut efeknya terhadap kadar glukosa darah) rendah, sekitar setengah dari gula tebu biasa.

“Saya akan tetap menderes pohon kelapa. Sampai cita-cita anak saya tercapai. Sampai saya tidak kuat memanjat pohon kelapa lagi,” ujar Suryadi mengakhiri pembicaraan. (Milesia.id/ Penulis: Fauzi Ismail/ Editor: Rimawan Prasetiyo)

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close