FoodsMilesfood
Trending

‘Kopi Jo, Saya Jatuh Cinta Pada Sesapan Pertama’

MILESIA.ID – Langit sore mulai berwarna jingga ketika saya tiba di halaman muka bangunan ber-cat putih itu.

Ruko berlantai dua tepat di sudut pertigaan Jalan Bugisan itu masih nampak lengang.

Setelah memarkir kendaraan di depan toko peralatan lukis di lantai satu, saya berjalan ke Barat menuju tangga.

Tepat disebelah tangga tempat saya berdiri terpampang papan nama ‘Kopi Jo’, kedai kopi baru ‘rasa lawas’.

Kedai kopi besutan Pak Johanes ini mempunyai rumah baru sejak akhir Desember 2017 lalu.

Begitu menaiki tangga, saya langsung bisa menemukan Johanes Tan Joana Jaya (45) alias Pak Jo yang tak bosan menyapa ramah tamu-tamunya disela kesibukan meracik kopi di dapur mungilnya.

Kedai Kopi ini didesain dengan konsep mirip di roof top, sehingga pengunjung bisa menikmati kopi sambil menghirup udara bebas.

Bangunan dan properti yang dominan berbahan kayu, semakin menambah suasana nyaman untuk berlama-lama.

Setelah menyapa dan berbincang sebentar dengan Pak Jo, saya memesan secangkir Kopi Jo dan pisang bakar.

Secangkir Kopi Jo dihargai 15 ribu rupiah.

Selain menu kopi, kedai Kopi Jo juga menyuguhkan teh tarik dan coklat susu dengan harga yang sama.

Belakangan Pak Jo juga menyajikan menu Vietnam Drip, tentu dengan rasa yang khas.

Selain racikan minuman, kedai Kopi Jo juga menyajikan menu makanan seperti nasi goreng, pisang goreng sampai kentang goreng rempah.

Sambil menunggu pesanan tiba, saya mengambil tempat duduk disisi Timur menghadap Jalan Bugisan.

Dari tempat saya duduk, nampak kerlap-kerlip lampu jalanan di sepanjang Jalan Bugisan mulai menyala.

Kedai Kopi Jo di Jalan Bugisan ini buka mulai dari Senin sampai Sabtu dari pukul 14:00 sampai 23:00 WIB, sedang untuk hari Minggu dan tanggal merah libur.

Kedai ini bisa dibilang kedai kopi baru dengan ‘rasa lawas’, disebut lawas karena sebenarnya virus Kopi Jo sudah menyihir penikmat kopi di Jogja dan sejak satu dasawarsa lalu.

Saya sendiri mengenal Kopi Jo sekitar empat tahun lalu, tepatnya di acara Semarak Kuliner Jogja di Pasar Ngasem bulan Oktober 2014.

Niat awalnya mengantar Icha, anak perempuan berburu kuliner tradisional khas Jogja, saat sibuk mencari jajanan yang dimaui Icha, tak sengaja berpapasan dengan gerobak kayu dengan jajaran kendi tanah liat di depannya.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Bukan hanya kopi yang nikmat, suasana untuk nongkrong pun nyaman.

Kendi-kendi itu ternyata menampung seduhan kopi berwarna kecoklatan yang dipanaskan dengan bara arang, sehingga mengeluarkan aroma khas.

Ketika saya cicipi untuk pertama kalinya Kopi Jo, Seketika itu pun saya jatuh cinta.

AWAL DISEBUT KOPI JO

Pertama kali Johanes Tan Joana Jaya menjual Kopi Jo yang menjadi branding-nya saat Biennale Yogyakarta X dihelat pada tahun 2009.

“Saat itu saya tawarkan pada teman-teman perupa, ternyata sebagian besar menyukainya. Teman-teman bilang aroma rempahnya terasa namun rasa kopinya tetap dominan. Oleh Ong Hari Wahyu (perupa Yogyakarta) dikasih nama Kopi Jo,” kata Pak Johanes.

Setelah Biennale Yogyakarta X, Pak Jo mendapat tawaran di Pasar Kangen Yogyakarta di Taman Budaya Yogyakarta.

Selain ramuan yang khas, beberapa keunikan dengan mudah dikenali dari Kopi Jo: display dari balok-papan kayu kuno serta cara pengolahannya.

Semenjak mengikuti Pasar Kangen Yogyakarta 2010, Pak Jo ditawari untuk secara reguler membuka Kopi Jo oleh Bentara Budaya Yogyakarta setiap Senin malam bersamaan dengan Jazz Mben Senen.

Beberapa waktu lalu selama 2 hari ia membuka lapak Kopi Jo di area Festival Prambanan Jazz 2016.

Kopi Jo selalu hadir pada acara-acara kuliner di Jogja sampai sampai akhirnya membuka rumah perdananya di Jalan Bugisan Selatan No.20A, Tirtonirmolo Kasihan Bantul, Yogyakarta atau sekitar 200 meter sebelah selatan SMSR/SMKI.

KOPI JO, RACIKAN ROBUSTA TEMANGGUNG

Kopi yang biasanya memiliki rasa yang dominan pahit, disulapnya menjadi Kopi Jo yang kaya rasa. Pak Jo memadukan kopi dengan berbagai rempah berkualitas tinggi.

Ia mengolah kopinya dari biji Kopi Robusta Temanggung yang diambil langsung dari petani di daerah Candiroto Temanggung.

Baginya, kopi robusta memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Melalui eksperimen sejak tahun 2006 di tengah usaha pembuatan tas yang dijalaninya, Pak Jo membuat formula tambahan dengan memanfaatkan panenan kopi dari kebun keluarganya di Temanggung.

“Pilihan kopi robusta selain ketersediaannya yang melimpah, kebiasaan masyarakat kita sebagian besar mengkonsumsi jenis ini.

Salah satu pertimbangan utama adalah lambung saya sensitif dengan kopi. Saya tidak bisa meminum kopi yang asam (jenis arabika),” kata Pak Jo.

Dengan pertimbangan tersebut, ia menjadikan dirinya sebagai kelinci percobaan pada eksperimennya.

Selagi kopi aman dikonsumsinya, kopi yang ditawarkan aman juga untuk konsumen yang memiliki lambung sensitif terhadap asam kopi.

MILESIA.ID/KELIK NOVIDWYANTO – Mudah mencari Kopi Jo, cari aikon unik Kopi Jo di sekitar Bugisan. Papan bulat bergambar pria minum kopi dan tertulis Kopi Jo di bawahnya.

Pak Johanes mengolah Kopi Jo dalam kuali ukuran sedang di atas anglo arang.

Penggunaan kuali dan kayu arang tidak semata-mata untuk sensasi.

Perlu waktu 45 menit hingga 1 jam sejak pertama kali dimasak agar kopi siap dihidangkan.

Pemilihan kuali dan bahan bakar kayu arang untuk menjaga cita rasa.

“Dengan menggunakan arang kayu, proses matang kopi yang diolah bisa lebih pas. Ini untuk menghindari rasa gosong kopi jika airnya terlalu cepat mendidih,” jelasnya.

Penggunaan arang kayu dalam anglo dapat menjaga kehangatan kopi dalam waktu relatif lama. Dengan traditional cooking yang diterapkannya, diharapkan bahan-bahan yang digunakan akan semakin keluar rasa naturalnya karena tidak bersentuhan dengan bahan logan maupun terkontaminasi gas.

Ketika kopi yang sudah jadi terlihat mendekati titik didih, biasanya Pak Jo segera memindahkan kuali dari atas anglo.

Kopi olahan tersebut dipadukan dengan bubuk cokelat, susu bubuk, susu murni, susu kental manis, krimer dan rempah-rempah.

Pemilihan jenis rempah diakui Pak Jo tidak mengurangi rasa dan aroma kopi.

Meskipun disajikan tanpa gula, namun kopi sudah memiliki cita rasa manis dengan bonus rasa rempah yang tajam.

KOPI PENGHABISAN

Langit berwarna pekat ketika tetes terakhir kopi saya teguk.

Kopi penghabisan malam ini untuk Kopi Jo, kopi yang disajikan dengan cangkir kaleng berwarna kuning muda lengkap dengan sticker brand Kopi Jo, gambar Kepala yang menikmati kopi sampai tetes penghabisan.

Lamat-lamat terdengar orang-orang mulai sibuk berkemas.

Gemerisik laptop yang ditutup juga decit kursi yang bergeser, ketika saya tengok jam di tangan, hampir pukul 23:00 malam.

Saya menggamit jaket, beranjak dari tempat duduk kemudian berjalan menuju kasir untuk membayar. Kopi Jo, nikmat hingga tetes penghabisan. (Milesia.id/ Penulis: Kelik Novidwyanto/ Editor: Rimawan Prasetiyo)

Tags

Related Articles

2 Comments

    1. Ma’rifat e ngunjuk kopi Pak Dzuha, teguk pelan-pelan terus rasakan di lidah… lepaskan konsep tentang warna-warni kopi lain di ingatan. Yang jelas kopi Jo punya aroma khas plus nikmat dilidah, selain kenyataan bahwa Pak Jo ramah dan rendah hati…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close